31
Agu
11

Katolik dan Evolusi

Lalu dimanakah posisi Gereja Katolik terhadap evolusi ? Pertanyaan ini mungkin tidak akan pernah menemukan jawaban final yang memuaskan, namun ada beberapa parameter tertentu yang dapat menjelaskan apa yang dapat diterima oleh Gereja Katolik. Mengenai evolusi kosmologis, Gereja telah mendefinisikan secara infallible (tidak dapat salah) bahwa alam semesta secara special diciptakan (dari tidak ada menjadi ada). Konsili Vatikan I secara serius mendefinisikan bahwa semua orang harus “mengakui bahwa dunia dan segala isinya, spiritual dan material, keseluruhan substansinya, telah diciptakan oleh Tuhan dari ketidak-adaan” (Canons on God the Creator of All Things, canon 5).

Mengenai evolusi biologis, Gereja tidak memiliki posisi resmi tentang apakah berbagai bentuk kehidupan berkembang sejalan dengan waktu. Walaupun demikian, dikatakan bahwa, jika memang mereka mengalami perkembangan, mereka melakukannya dengan dorongan dan bimbingan dari Tuhan, dan tujuan penciptaan mereka harus diserahkan kepadaNya.

Tentang evolusi manusia, Gereja memiliki ajaran yang lebih definite. Ajaran Gereja tidak menolak kemungkinan bahwa tubuh manusia berkembang dari bentuk biologis lain, namun tetap didalam bimbingan Tuhan, Gereja menegaskankan adanya penciptaan spesial yang berasal dari roh Allah. Paus Pius XII menegaskan bahwa “kuasa mengajar dari Gereja tidak melarang, dalam kesesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan manusia dan theologi suci, penelitian dan diskusi-diskusi . . . yang diadakan sehubungan dengan doktrin evolusi, sejauh mana mereka menyelidiki asal usul dari tubuh manusia yang berasal dari mahluk hidup atau material yang sebelumnya telah ada — (Namun) Iman Katolik mewajibkan kita untuk percaya bahwa roh diciptakan langsung oleh Tuhan” (Pius XII, Humani Generis 36). Jadi apakah tubuh manusia diciptakan secara spesial atau melalui perkembangan (evolusi), kita diharuskan untuk percaya dalam iman Katolik bahwa roh manusia diciptakan secara spesial; tidak berevolusi, dan tidak diwariskan dari orang tua kita, seperti tubuh kita.
Jika Gereja mengijinkan untuk mempercayai penciptaan spesial atau penciptaan yang berkembang (evolusi) pada hal-hal tertentu, namun dalam kondisi apapun Gereja tidak mengijinkan untuk mempercayai evolusi yang atheist.

Pertanyaan tentang Waktu

Orang-orang Katolik harus mempertimbangkan bukti tentang umur alam semesta dengan meneliti bukti-bukti dari alkitab dan ilmu pengetahuan. “Karena Iman berada diatas akal budi, sehingga tidak mungkin ada perbedaan yang nyata antara iman dan akal budi. Karena Tuhan yang sama yang mengungkapkan misteri-misteri (kehidupan) dan menanamkan iman telah menganugerahkan kesadaran akan perlunya akal budi dalam pikiran manusia, Tuhan tidak mungkin menyangkal diri sendiri, sehingga kebenaran akan berkontradiksi dengan kebenaran” (Katekismus Gereja Katolik 159).

Kontribusi dari ahli-ahli fisika untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini ditekankan oleh Katekismus, yang menyatakan, “Pertanyaan tentang asal usul dunia dan manusia telah menjadi obyek penelitian dari banyak ilmuwan yang benar-benar memperkaya pengetahuan kita terhadap umur dan dimensi dari alam semesta, perkembangan dari bentuk-bentuk kehidupan dan bentuk fisik manusia. Penemuan-penemuan ini mengundang kita untuk lebih mengagumi lagi kebesaran dari Sang Pencipta, mendorong kita untuk berterima kasih kepada Tuhan atas segala pekerjaanNya dan untuk semua pengertian dan kebijaksanaan yang telah diberikanNya kepada para ilmuwan dan peneliti” (Katekismus Gereja Katolik 283).

Kejadian Sesungguhnya

Hal yang ingin disampaikan disini adalah bahwa semuanya ini sebenarnya adalah kejadian sejarah yang sesungguhnya, yang dapat dilihat bila dimengerti secara urutan topik dan bukan urutan kronologis, dan para pembaca kitab Kejadian di masa lampau, yang kita permasalahkan, akan mengerti (kisah ini) seperti ini. Dan walaupun Kej 1 mencatat pekerjaan Tuhan menurut topiknya, kisah ini tetap mencatat pekerjaan Tuhan — hal-hal yang benar-benar dilakukan oleh Tuhan. Katekismus menjelaskan bahwa “Alkitab mengisahkan pekerjaan dari Sang Pencipta secara simbolik sebagai urutan dari enam hari ‘pekerjaan’ Tuhan, yang diakhiri dengan ‘istirahat’ pada hari yang ketujuh” (Katekismus Gereja Katolik 337), namun “tidak ada satu halpun yang ada sekarang yang tidak berasal dari keberadaan Tuhan sang Pencipta. Dunia mulai ketika firman Tuhan menariknya dari ketidak adaan; semua ciptaan yang sekarang ada, semua alam, dan semua sejarah manusia berasal dari peristiwa awal ini, kejadian yang paling pertama yang dengannya dunia dibentuk dan waktu dimulai” (Katekismus Gereja Katolik 338).

Adam dan Hawa: Manusia yang benar-benar ada

Kisah dari penciptaan dan kejatuhan manusia adalah sebuah kebenaran, meskipun tidak ditulis seluruhnya dengan teknik penulisan yang modern. Katekismus menyatakan, “Kisah tentang kejatuhan (manusia) di Kej 3 menggunakan bahasa yang figuratif, namun menegaskan adanya sebuah kejadian yang merupakan awal (dari dosa), sebuah perbuatan yang terjadi pada permulaan sejarah manusia. Wahyu (Allah) memberikan kita kepastian iman bahwa keseluruhan sejarah manusia ditandai oleh dosa pertama yang dilakukan secara bebas oleh orang tua pertama kita” (Katekismus Gereja Katolik 390).
sumber: Ainun Asmawati & Dyah Ayu Fajarianingtyas. 2011. Teori Evolusi Biologis dan Agama. Makalah. Jurusan Biologi. PPs UM. Malang


0 Responses to “Katolik dan Evolusi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: