31
Agu
11

Islam dan Evolusi

Hasil-hasil pemikiran manusia dalam biologi menyakini kebenaran agama yang berdasarkan wahyu. Organisme tidak sekedar dikaji pada aspek fisik atau biologis semata-mata; manusia dalam biologi dipandang sebagai integral dari keseluruhan organisme. Dengan demikian dipandang sebagai manusia yang utuh, yaitu terdiri dari komponen jasmani dan rohani (Widodo, 2003).

Dalam agama islam, keseluruhan yang ada digolongkan atas: Khalik yakni Allah SWT yang menjadikan (menciptakan), dan makhluk, yaitu segala yang dijadikan oleh Allah SWT. Dengan demikian segala macam makhluk, baik makhluk hidup maupun makhluk tak hidup (benda mati) terjadi atas kehendak Allah. Terjadinya jenis-jenis makhluk hidup secara evolusipun atas kehendak Allah.

Mengenai kejadian makhluk hidup secara evolusi atas kehendak Allah SWT , bisa timbul pertanyaan: karena Allah itu Maha Kuasa, mengapa Allah tidak menciptakan jenis-jenis makhluk hidup itu secara langsung? Mengapa harus melewati waktu yang lama?

Dalam keyakinan agama islam, Allah itu Maha Esa. Tidak hanya dzat-Nya, tetapi juga sifat-Nya, dan cara-Nya menciptakan. Allah SWT menciptakan sesuatu tidak seperti cara manusia bekerja, sebab Allah Maha Kuasa, kuasa menciptakan segala sesuatu sesuai dengan keagungan-Nya.

 Asal-Usul Langit dan Bumi

“Sesungguhnya  Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa…”(QS 7:54)

Menurut ahli tafsir kontekstual, “satu hari” dalam Al-Qur’an tidak berarti otomatis 24 jam, tetapi dapat beerarti 1000 atau bahkan 50000 tahun sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut ini:

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang  kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitungannmu.” (QS 32:5)

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS 70:4)

Hari yang mana yang dimaksud Allah dalam “enam hari” dalam surat Al-A’raf ayat 54 diatas? Adalah jelas bahwa pada permulaan Allah berkeinginan untuk menciptakan alam semesta, planet bumi tentulah belum berwujud, tapi masih berupa gagasan. Tatkala waktu disetel pada detik nol, bumi dan  benda-benda langit lainnya belum ada.

Itulah sebabnya madzhab kontekstual lebih suka menafsirkan “enam hari” itu akan menjadi “enam periode” . Kami yakin sepenuhnya bahwa Allah Maha Kuasa dan pasti mampu menciptakan alam semesta dan segala isinya hanya dalam sepersekian detik, tetapi Allah lebih suka melakukan penciptaan itu bertahap atau secara evolusi.

Tahap pertama penciptaan semesta adalah asap atau dukhon. Tahap kedua adalah terpecahnya asap menjadi berbagai benda-benda langit. Ini persis sama dengan apa yang diakui oleh kebanyakan pakar astrofisika sampai saat ini (teori ledakan besar).

Menurut teori ini, puluhan atau mungkin ratusan miliar tahun silam terdapat tumpukan gas yang terdiri dari hydrogen dan sedikit helium yang berotasi perlahan-lahan kemudian gas itu pecah dalam satu peristiwa yang disebt”ledakan besar” dan selanjutnya membentuk benda-benda langit yang kini dikenal sebagai galaksi. Hal ini dapat dianggap sebagai tahap pertama pembentukan alam semesta. Dalam alam semesta terdapat bermiliar-miliar galaksi, masing-msaing berotasi pada sumbunya sedemikian rupa sehingga satu sama lain tidak bertabrakan (As Shouwy, 1997).

Pada tahap kedua, galaksi pecah menjadi bermiliar-miliar bintang, salah satu diantara bintang itu adalah matahari. Dan setiap kumpulan gas yang membentuk bintang pecah sebagai tahap ketiga untuk membentuk planet-planet yang membentuk bintang dan satu atau lebih bulan yang beredar mengelilingi planet tertentu. Setiap bintang dan planet berotasi pada sumbu masing-masing sebagaimana halnya dengan galaksi-galaksi sedemikian rupa sehingga tidak ada tabrakan antara yang satu dengan yang lain. Semuanya ini adalah sunnatullah, tanda-tanda arau hokum Allah atau dalam istilah ilmiah kita sebut sebagai hukum alam (As Shouwy, 1997).

Teori evolusi biologis justru membawa orang kepada persoalan asal mula makhluk hidup yang pertama, yang ada di bumi kira-kira 3,2 milyar tahun yang lalu. Biologi sekarang menolak anggapan generation spontania atau abiogenesis, dan hal ini berarti bahwa makhluk hidup tidak bisa terjadi dengan sendirinya dari benda-benda mati. Tentang makhluk hidup yang pertama di bumi, orang bisa mengambil kesimpulan bahwa Allah SWT yang menciptakannya, sebab ahli-ahli biologi tidak pernah bisa membuat benda hidup yang paling sederhanapun dari benda mati.

Proses evolusi yang kemudian berjalan terus pada Homo sapiens itu terutama mengenai evolusi psycho-social-nya. Kemudian sampailah kita pada taraf membandingkan Adam dengan Homo sapiens. Dalam Al-Quran Surat Nuh, ayat 14 dikatakan: “Sesungguhnya Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan”. Ayat 14 Surat Nuh ini ditafsirkan oleh H. Zainuddin Hamidy dan Fachruddin Hs. (1967) di dalam Tafsir Qur’an yang disusun keduanya, bahwa Tuhan menciptakan manusia melalui beberapa tingkatan pertumbuhannya, mulai dari tanah, air mani, segumpal daging, lahir sebagai bayi, kanak-kanak, meningkat umur dewasa dan sampai kepada usia yang sangat tua dan seterusnya meninggal dunia dan dibangkitkan kembali. Juga berarti menurut keduanya bahwa hidup manusia dari zaman ke zaman senantiasa berjalan sepanjang evolusinya.

Allah tidak menciptakan makhluk hidup melalui proses evolusi, oleh karena fakta yang menunjukkan adanya penciptaan atau rancangan yang disengaja pada kehidupan adalah nyata, satu-satunya pertanyaan yang masih tersisa adalah “melalui proses yang bagaimanakah makhluk hidup diciptakan.” Di sinilah letak kesalahpamahaman yang terjadi di kalangan sejumlah kaum mukmin. Logika keliru yang mengatakan bahwa “Makhluk hidup mungkin saja diciptakan melalui proses evolusi dari satu bentuk ke bentuk lain” sebenarnya masih berkaitan dengan bagaimana proses terjadinya penciptaan makhluk hidup berlangsung.

 Air Sebagai Prasyarat  Penciptaan Makhluk Hidup

Pada awalnya bumi tidaklah seperti yang kelihatan sekarang, penuh dengan berbagai macam fauna dan flora, tetapi merupakan planet mati hingga tuhan menurunkan air sebagai prasyarat terciptanya makhluk hidup.

“kemudian kamu berpaling setelah (perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang-orang yang rugi “(QS.2:64). “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, dan Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai  rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui” (QS 2:22)

“Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis tumbuhan yang bermacam-macam”(QS 20:53)

Untuk menopang kehidupan di planet bumi harus ada jaminan bahwa air akan selalu ada dalam jumlah dan kualitas tertentu. Para pakar biologi mengakui bahwa diplanet bumi terdapat siklus air yang menjamin berlangsungnya kehidupan. Air laut menguap pada waktu siang hari karena sinar matahari, untuk membentuk awan diatmosfer. Kalau situasinya mengizinkan, maka awan ini akan menjadi dingin dan turunlah hujan kebumi, membasahi tanah dan mengalir kesungai hingga akhirnya kembali kelaut. Siklus ini berlangsung terus menerus. Tuhan menjamin siklus air sebagaimana bias dilihat dalam banyak ayat Al Quranul karim.

“Dan kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran, lalu Kami jadikan air itu meresap dibumi, dan  sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkanya” (QS 23:23-18)

“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan kami turunkan hujan-hujan dari langit, lalu Kami berikan minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya” (QS 15:22)

Makhluk Pertama yang Diciptakan Adalah Makhluk Air

Bertentangan dengan pendapat yang umumnya dianut oleh mufassirin tekstual yang menyatakan bahwa makhluk hidup pertama diciptakan di bumi, maka mufassirin kotekstual berpendapat bahwa makhluk hidup pertama justru dalam air. Ini sesuai dengan teori evolusi, yang juga dianut oleh para pendukung mahzab kontekstual. Kita merujuk kembali pada ayat;

“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman” (QS 21:30)“ Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang melata diatas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedangkan sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS 24:45)

Pernyataan bahwa tuhan telah menciptakan setiap hewan dari air  dapat ditafsirkan dalam dua cara: pertama, air sebagai komponen prasyarat dalam menciptakan makhluk hidup kedua, air sebagai tempat pertama bagi kehidupan makhluk hidup pertama.

Kedua hal ini diakui oleh pakar biologi, terutama para pendukung teori evolusi. Hal ini juga sejalan dengan pendapat para pakar biologi yang menyatakan bahwa pada detik pertama kehidupan bumi, planet tersebut merupakan planet mati. Pada waktu itu partikel-partikel saling bertabrakan satu sama lain sehingga bumi bagaikan bola api. Diperkirakan suhu bumi waktu itu sekitar 1.0000C yang mustahil makhluk hidup bisa terbentuk. Sewaktu suhu terus meningkat, maka elemen-elemen ringan muncul kepermukaan sedangkan elemen-elemen berat tenggelam ke inti bumi. Dengan cara ini, strata bumi terbentuk yang intinya terletak dipusat bumi, kemudian ditutupi oleh lapiasan mantel dan kerak bumi yang terbentuk dipermukaan. Sampai saat ini diyakini bahwa bumi selalu berada dalam keadaan tidak stabil. Karena adanya perbedaan suhu antara lapisan-lapisan bumi, terdapatlah arus koveksi dinamis yang menyebabkan kerak bumi tidak stabil. Pergeseran lempeng dapat menimbulkan gempa tektonik dan tekanan yang tinggi pada lapisan mantel dapat timbul dalam gempa vulkanik (Pope,1984 dalam As Shouwy, 1997).

Makhluk hidup pertama muncul dalam air dalam bentuk makhluk bersel tunggal: algae, sekitar 4 miliar tahun S.S. atau lebih dikenal sebagai era Pra Kambria. Kemudian sekitar bermilyar tahun lanjutnya makhluk bersel tunggal tersebut bertransformasi menjadi makhluk bersel banyak. Dari era tersebut para ahli menggali banyak sekali makhluk-makhluk air. Selanjutnya genus Homo mulai muncul sekitar 2 juta tahun S.S dalam bentuk Pithecanthropus atau Homo Erectus. Setelah jenis ini punah muncullah manusia Neanderthal kemudian diikuti oleh manusia Cro-Magnon. Kemudian punahnya manusia Cro-magnon digantikan oleh Homo Sapiens (As Shouwy, 1997).

Adam Bukan Makhluk Pertama Di Bumi

Menurut agama islam, manusia pertama yaitu Adam, yang kemudian menurunkan semua manusia di atas bumi sekarang ini, telah diciptakan dari tanah oleh Allah SWT. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat As-sajadah ayat 7-8 yang terjemahannya adalah sebagai berikut:

“Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia mejadikan pendengaran, penglihatan, dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur”

Biologi juga menerangkan bahwa tiap-tiap bagian dari jasmani (tubuh) makhluk hidup berasal dari tanah, melewati makanan dan minuman, dan bahwa tiap-tiap unsur dari jasmani manusia terdapat unsur tanah juga. Dari sini jelas terlihat terdapat keserasian antara ajaran agama dengan teori biologi dalam penciptaan manusia (Widodo, 2003).

Dengan teori evolusi biologis yang diterima para ilmuwan sebagai suatu penjelasan tentang kemungkinan terjadinya manusia, dimanakah letak Adam dalam deretan evolusi makhluk hidup tersebut?

Menurut agama islam Adam adalah nenek moyang semua manusia di muka bumi sekarang ini. Dari ajaran agama islam (dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 31-33) kita dapat mengetahui bahwa yang dimaksud Adam adalah makhluk yang sudah dapat berpikir taraf konsepsi, mempunyai kemampuan untuk berpikir abstrak, serta memiliki bahasa. Dalam tafsir Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 31-33 dijelaskan bahwa manusia dianugerahi Allah potensi untuk nama atau fungsi dan karaktristik benda-benda. Dia juga dianugerahi potensi untuk berbahasa. Salah satu keistimewaan manusia adalah kemampuannya mengekspresikan apa yang terlintas dalam benaknya serta kemampuannya menangkap bahasa sehingga ini mengantarnya “mengetahui”. Di sisi lain, kemampuan manusia merumuskan idea dan memberi nama bagi segala sesuatu merupakan langkah menuju terciptanya manusia berpengetahuan dan lahirnya ilmu pengetahuan. Karena pengetahuan yang dimilikinyalah maka Allah SWT mengangkat Adam sebagai khalifah di muka bumi ini (Shihab, 2002). Adam adalah manusia yang sadar akan dirinya, dapat dibebani tanggungan moral dan spiritual, dan hal ini apabila dihubungkan dengan teori evolusi biologis akan tercapai kalau makhluk dalam perkembangan evolusinya mencapai tingkatan Homo sapiens atau manusia berakal (Widodo, 2003).

Biologi menggolong-golongkan makhluk hidup atau jenis-jenis (spesies). Pengertian jenis adalah ciptaan pikiran manusia, yaitu menunjukkan sejumlah individu yang mempunyai ciri-ciri morfologis yang sama dan mereka dapat kawin sesamanya untuk mendapatkan keturunan yang normal. Begitulah di muka bumi ini ada manusia homo yang diperkirakan terjadi sejak 50.000 tahun yang lalu, yang mempunyai ciri-ciri yang disebut jenis sapiens (berakal), sehingga makhluk demikian diberi nama Homo sapiens. Semua manusia di zaman ini, dari suku, bangsa atau Negara manapun dengan kebudayaan dan agama apapun berasal dari satu jenis yaitu Homo sapiens. Tepat pemakaian istilah jenis untuk seluruh manusia di zaman ini, sebab dengan istilah jenis menurut biologi dimaksud juga bahwa perkawinan antara makhluk-makhluk hidup di dalam satu jenis yang sama bisa menghasilkan keturunan yang normal (fertil).

Homo sapiens berasal dari perkembangan makhluk hidup dengan jenis yang bukan Homo sapiens yang sebelumnya juga berasal dari jenis makhluk hidup yang lebih rendah lagi tingkatannya. Secara biologis Homo sapiens masih memiliki struktur hewan dan mewarisi sejumlah instink serupa yang terdapat pada hewan. Tetapi Homo sapiens adalah satu-satunya jenis makhluk hidup di muka bumi ini yang secara tiba-tiba dan istimewa sekali memiliki otak yang khas bersifat manusia sempurna. Ada perkembangan yang tiba-tiba melonjakdalam kemampuan intelek yang dimiliki Homo sapiens dibandingkan dengan jenis-jenis makhluk hidup sebelumnya; seolah-olah perkembangan evolusi biologis, yaitu evolusi fisik manusia ditempatkan dalam tingkatan kedua dibandingkan perkembangan inteleknya. Proses evolusi kemudian terus berjalan pada Homo sapiens terutama mengenai evolusi Psyco-sosialnya (Widodo, 2003).

Alim dalam Jacob (1984) menyatakan bahwa di dalam al-Quran diterangkan bahwa perbedaan antara manusia dengan binatang adalah terletak apakah beragama atau tidak; percaya pada yaumul hisab atau tidak. Al-Quran tidak menerangkan bahwa perbedaan manusia dengan binatang adalah bahwa manusia itu berakal dan binatang tidak berakal. Perbedaan ini keliru karena Homo erectus sudah berakal walaupun tidak sesempurna akal manusia; jenis Homo erectus sudah dapat membuat senjata , tombak untuk alat berburu dan pandai menghidupkan api, serta hidup bermasyarakat.

Membandingkan Adam dengan Homo sapiens

Dalam agama islam tidak ada istilah Homo sapiens dalam Al-Qur’an, sebab istilah ini baru muncul pada abad 18 dan merupakan hasil pemikiran untuk diberikan pada kelompok manusia tertentu dalam pembicaraan ilmiah. Dalam biologi, khususnya taksonomi dan sistematik, suatu jenis makhluk hidup diberi nama dengan dua kata Latin atau yang diLatinkan. Kata pertama (misalnya Homo) menunjukkan menunjukkan golongan atau genus makhluk hidup tersebut, sedangkan kata yang kedua (misalnya sapiens) menunjukkan jenis atau spesiesnya. Pemberian nama makhluk hidup dengan menggunakan dua kata (binomial nomenclature) tersebut gunanya untuk memudahkan dalam mempelajari atau mengolong-golongkan makhluk hidup.  Berdasarkan hal ini maka istilah Adam yang hanya terdiri dari satu kata tidak digunakan dalam taksonomi.

Adam adalah nama yang diberikan pada manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT, kemudian menurunkan semua manusia di zaman ini. Adam adalah makhluk manusia yang bisa berpikir taraf konsepsi, mempunyai kemampuan berpikir abstrak dan dapat dibebani pertanggungan moral dan spiritual, sehingga Adam dapat menerima semua ajaran dari Allah SWT.

Teori evolusi biologis mencoba menjelaskan bahwa dalam perkembangan evolusi makhluk hidup pada suatu ketika tercapai makhluk hidup yang mempunyai ciri-ciri yang dimiliki Adam. Makhluk hidup demikian oleh ilmu pengetahuan diberi nama Homo sapiens. Jadi dapat dikatakan Adam adalah Homo sapiens yang pertama, dan manusia di zaman ini dapat disebut keturunan Adam atau termasuk jenis Homo sapiens.

Dalam Al-Qur’an surat Nuh ayat 14 dikatakan “sesungguhnya Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan”. Surat Nuh ayat 14 ini ditafsirkan oleh H. Zainuddin Hamidy dan Fachrudin Hs. (1967) di dalam tafsir Al-Qur’an yang disusun oleh keduanya. Dalam tafsir tersebut dijelaskan bahwa Allah SWT menciptakan manusia melalui beberapa tingkatan pertumbuhan. Mulai dari tanah, air mani, segumpal daging, lahir sebagai bayi, kemudian kanak-kanak, meningkat umur dewasa dan sampai pada usia yang sangat tua dan seterusnya meninggal dunia dan dibangkitkan kembali. Juga berarti menurut keduanya bahwa hidup manusia dari zaman ke zaman senantiasa berjalan sepanjang evolusinya.

 

sumber: Ainun Asmawati & Dyah   Ayu  Fajarianingtyas. 2011. Teori Evolusi Biologis dan Agama. Makalah. Jurusan Biologi. PPs UM. Malang


0 Responses to “Islam dan Evolusi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: