31
Agu
11

Hindu dan Evolusi

Dalam perspektif Weda, teori evolusi Darwin itu tidak lebih daripada sekedar spekulasi yang hambar. Darwin tidak mengetahui konsep evolusi yang sesungguhnya, yaitu bahwa bukan badan jasmani yang mengalami evolusi, melainkan sang roh yang mengalaminya. Roh yang mengalami reinkarnasi dan mendapatkan badan-badan jasmani sesuai dengan karmanya.

Weda menyebutkan adanya 8.400.000 (asitim caturas caiva laksams) jenis kehidupan, mulai dari bakteri hingga para dewa, didasarkan pada jenis kesadaran yang dimiliki oleh makhluk hidup. Mengenai penggolongan atau klasifikasi makhluk hidup, telah diuraikan dalam kitab Padma Purana sebagai berikut :

jala-jā nava-lakñāni sthāvara lakña-vimsati
krmaya rudra-sankhyakah paksinam dasa-laksani
pasavas trimsa-laksani manusya catur-laksani

Perhatikan bahwa arti kata “jenis kehidupan” atau “species” yang dipahami oleh para ilmuwan berbeda dengan arti yang terkandung dalam ayat ini. Arti yang digunakan oleh para ahli biologi mengacu pada penampilan lahiriah jasmani kasar makhluk hidup atau morfologinya. Namun makna menurut Weda adalah makna yang diperoleh setelah melalui analisa yang mendalam dan berhati-hati, yaitu berdasarkan tingkat kesadaran makhluk hidup. Sebagai contoh, para ahli biologi mengelompokkan manusia menjadi satu species saja, sedangkan Veda mengelompokkannya menjadi 400.000 species. Dengan kata lain ada 400.000 golongan manusia berdasarkan tingkat kesadaran mereka.
Mengapa terdapat begitu banyak variasi makhluk hidup? Dalam Bhagavad-gita (8.6), Sri Krsna menjelaskan :

yam yam vapi smaran bhavan
tyajaty ante kalevaram
tam tam eva iti kaunteya
sada tad-bhava bhavitah

“Keadaan hidup manapun yang diingat seseorang saat meninggalkan badannya, pasti keadaan itulah yang akan dicapainya, wahai Putra Kunti (Arjuna).”

Dalam pandangan Vedanta, Evolusi didefinisikan sebagai perjalanan partikel-kehidupan yang memiliki kesadaran-sang jiva)-yang jumlahnya tak dapat dihitung dalam ruang dan waktu sebagaimana mereka berpindah-pindah dari satu bentuk badan ke bentuk badan yang lain dibawah Hukum karma (sebab dan akibat). Derajat atau tingkat kesadaran, guna (sifat) dan karma (aktifitas) dari setiap makhluk hidup akan menentukan arah dari jalan evolusinya. Kesalahan Darwin adalah bahwa dia tidak dapat memahami eksistensi kesadaran. Dengan demikian, Vedanta tidak menerima teori evolusi Darwin. Dalam keadaan-keadaan normal, kesadaran berkembang dalam garis lurus dan juga bertambah bijaksana. Badan-badan atau bentuk-bentuk yang berbeda-beda untuk mengakomodasi makhluk dengan kesadaran tertentu telah disusun oleh alam dalam rencana kosmik (mayädhyaksna prakrtihBhagavadgétä 9.10). Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, Brahmä Vaivarta Purana menjelaskan sebagai, açétià caturaç caiva lakñäàs täï jéva-jätiñu bhramadbhiù puruñaiù präpyaà mänuñyaà janma-paryayät, artinya orang mendapatkan bentuk kehidupan manusia setelah menggantikan 8.4 bentuk-bentuk kehidupan yang lain.

Sebagaimana dinyatakan terdahulu, bentuk-bentuk hayati menunjukkan suatu batasan dalam perkembangan kesadaran. Oleh karena itulah, berbagai tingkat kesadaran diekspresikan melalui beraneka macam badan ini. Vedanta membagi tingkat kesadaran ke dalam lima kategori yang luas: äcchädita (tertutup), sankucita mukulita (kuncup), vikasita (mekar) dan pürnavikasita (mekar sepenuhnya). (mengkerut),

Pohon dan tumbuhan, misalnya, adalah hampir tidak giat. Mereka termasuk kategori ‘kesadaran tertutup’. Namun, ketika kita mengamati mereka secara seksama, kita akan melihat bahwa mereka memiliki kesadaran yang terbatas. Jagadish Chandra Bose memberitakan bahwa tumbuh-tumbuhan memiliki kesadaran. Entitas hidup yang lain, seperti cacing atau ulat, serangga, dan binatang-binatang yang lain berada dalam “kesadaran mengkerut.’ Mereka tidak tertutup seperti tumbuh-tumbuhan, akan tetapi juga kesadaran mereka tidak berkembang sepenuhnya.

Manusia memiliki ‘kesadaran kuncup’. Sebuah pucuk kuncup nampaknya mengkerut, namun ia berpotensi untuk menjadi sekuntum bunga mekar. Kesadaran manusia memiliki potensi yang serupa. Jadi, umat manusia memiliki kemampuan bawaan untuk mengembangkan kesadaran sampai batas hampir tak terhingga, hingga titik mengetahui Kebenaran Mutlak. Spesies yang lain tidak memiliki kemampuan khusus ini. Itulah sebabnya Vedanta mempermaklumkan bahwa bentuk kehidupan manusia adalah yang paling tinggi dan brahmajijïäsa,Brahman khususnya dimaksudkan bagi bentuk kehidupan manusia.

Kesadaran terus mengalami perkembangan dengan cara seperti ini karena tujuan kehidupan adalah untuk mencapai keadaan kesadaran saccidänanda. Jadi, menurut Vedanta, kehidupan adalah berbeda dengan badan-badan material yang ditempatinya. Dalam bentuk kehidupan manusia, ketika seseorang dengan tulus mulai bertanya tentang Brahman, Kebenaran Mutlak, maka kesadaran spiritualnya yang seperti pucuk kuncup mulai mengalami perkembangan. Itulah keadaan kesadaran yang ‘mulai mekar.’ Ketika dia mempraktekkan disiplin-spiritual yang teratur sebagai hasil dari pertanyaannya, dia akan berkembang terus dan terus. Akhirnya, dia akan mencapai , realisasi trancendental (keinsyafan rohani), kesadaran Tuhan yang sempurna, keadaan  kesadaran yang ‘mekar sepenuhnya’.

Sutra pertama Vedanta-sutra mengajarkan betapa pentingnya bentuk kehidupan manusia. Segala bentuk pertanyaan manusia harus digunakan untuk mengetahui Brahman, Kebenaran Mutlak, Tuhan. Oleh karena itu, tujuan dari seluruh sains haruslah untuk bertanya tentang hakikat Tuhan. Seorang ahli fisika harus bertanya: apakah sumber sejati dari hukum-hukum alam? Seorang ahli kimia harus bertanya: siapakah Ahli Kimia Tertinggi di belakang semua molekul, DNA, klorofil, protein dsb. yang menakjubkan? Vedanta menjelaskan bahwa jika kita melaksanakan riset cukup jauh, kita akan menemukan sumber tertingginya adalah Tuhan. Jadi, Vedanta memperingatkan bahwa orang-orang cerdas tidak boleh disesatkan oleh pernyataan-pernyataan temporer dan tidak sempurna dari para ilmuwan atheis yang berusaha untuk menghilangkan Tuhan dari segala sesuatu. Ini akan membuat pengetahuan ilmiah modern menjadi berguna dengan baik. Ketika orang menginsyafi Kebenaran Mutlak melalui pertanyaan seperti itu, dia akan mengerti dasar sejati dari realitas. Dan kemudian, kewajibannya adalah untuk mengagungkan Tuhan Yang Mahaesa melalui pengertian ilmiah. Inilah rahasia dan tingkat kebahagiaan yang sejati. Inilah yang apa Närada Muni, guru spiritual Vyäsadeva, ajarkan kepada Vyäsadeva dalam Bhägavata Purana, penjelasan alami dari Vedanta-sutra.

 

sumber: Ainun Asmawati & Dyah Ayu Fajarianingtyas. 2011. Teori Evolusi Biologis dan Agama. Makalah. Jurusan Biologi. PPs UM. Malang


0 Responses to “Hindu dan Evolusi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: