30
Agu
11

Ekosistem Sawah

Ekosistem sawah merupakan ekosistem yang mencirikan ekosistem pertanian sederhana dan monokultur berdasarkan atas komunitas tanaman dan pemilihan vegetasinya. Selain itu ekosistem yang berada di sawah bukanlah ekosistem alami, akan tetapi sudah berubah sehingga akan sangat rentan terjadi ledakan suatu populasi di daerah tersebut. Hal inilah yang menjadikan daerah pertanian dan perkebunan sering terjadi serangan hama. Oleh karena itu ledakan hama merupakan ciri setiap pertanian monokultur (Untung, 1993).

Pola pikir petani yang mengganggap bahwa semua serangga yang berkeliaran di areal perwahan merupakan serangga hama dan harus dimatikan/dibasmi dengan menggunakan pestisida adalah pola pikir yang umum pada masyarakat petani Indonesia. Padahal sebetulnya di antara serangga-serangga tersebut ada yang beperan menjadi penyeimbang laju pertumbuhan hama. Selain itu serangga yang berperan sebagai hama hanya 1 % dari sekitar 10 juta serangga yang ada di muka bumi (Tarumingkeng, 1999). Pola pikir ini yang mendasari petani untuk membasmi serangga dengan hanya menggunakan pestisida secara absolut (mutlak). Pembasmian dan pemusnahan organisme organisme yang dianggap mengganggu tanaman yang dibudidayakan secara absolut tentu akan mengganggu keseimbangan ekosistem. Tindakan ini sebenarnya tidak menjadi masalah jika didasari dengan pertimbangan-pertimbangan ekologis dan ekonomis. Akan tetapi jika pembasmian dan pemusnahan hanya didasari dengan pertimbangan ekonomis saja keadaan ini tentu menjadi masalah yang serius, dan bahkan akan merugikan petani itu sendiri. Keberhasilan pengelolaan daerah monokultur dengan menggunakan pertimbangan ekologis dapat dilihat pada tahun 1923 sampai 1959 di areal pertanian di berbagai daerah di California (Huffaker dan Messenger, 1989) dan di Indonesia.

Pemberantasan hama dengan menggunakan serangga predator telah lama digunakan seiring dengan semakin menyempitnya/menurunnya kuantitas lahan (Went, 1988). Sebenarnya telah ada beberapa teknik pengendalian hama yang ditemukan oleh para ahli lingkungan. Diantara penemuan-penemuan tersebut adalah teknik pengendalian hama dengan menambah populasi serangga-serangga yang merupakan musuh alami ke daerah yang terserang hama dengan memodifikasi ekosistem. Teknik ini disebut dengan augmentasi (Kartosuwondo, 2001). Teknik lainnya adalah dengan menambah populasi spesies yang sudah ada di sebuah daerah atau lebih dikenal dengan inundasi. Selain itu jugs ada teknik introduksi yaitu pengendalian hama dengan memasukkan spesies eksotik (berasal dari luar daerah) ke dalam suatu daerah. Di Indonesia sendiri telah dikenal adanya rotasi tanaman (Rismunandar, 2003), penanaman serentak dan pembalikan tanah (Untung, 1993) yang juga merupakan upaya-upaya dalam mengendalikan hama di areal pertanian.


0 Responses to “Ekosistem Sawah”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: