28
Agu
11

Bab 8. Naluri (Instinct). The Origin of Species-Darwin

Naluri dapat disamakan dengan kebiasaan, tetapi berbeda dalam asal-usulnya — Naluri dibagi dalam tingkat-tingkat — Aphides dan semut — Naluri dapat berubah-ubah — Naluri hewan peliharaan, asal-usulnya — Naluri alamiah Cuckoo (burung elang malam), Molothrus, burung unta, dan lebah parasit — Semut pembuat budak — Lebah dan nalurinya untuk membuat sel — Perubahan naluri dan strukturnya tidak perlu simultan — Kesulitan-kesulitan dalam teori seleksi alam tentang naluri — Serangga yang netral atau steril — Ringkasan.

Banyak naluri begitu mengagumkan, sehingga perkembangan mereka barangkali tampak bagi pembaca mendatangkan kesulitan tersendiri untuk menggulingkan seluruh teori saya. Maka, perkenankanlah saya disini mengajukan sebuah premis, bahwa saya tidak berurusan dengan asal-usul daya-daya mental, kecuali dengan asal-usul kehidupan itu sendiri. Kita hanya berurusan dengan anekaragam naluri dan kemampuan-kemampuan mental lain pada hewan dari kelas yang sama.

Saya tidak akan membuat definisi tentang naluri, sebab definisi naluri lebih mudah diperlihatkan lewat beberapa tindakan mental, yang biasanya tercakup dalam istilah tersebut. Dan setiap orang memahami apa artinya bila dikatakan bahwa naluri mendorong burung Cuckoo untuk bermigrasi dan bertelur di sarang milik burung lain. Suatu tindakan yang kita sendiri memerlukan pengalaman untuk dapat melakukannya; bila dilakukan oleh hewan, lebih khusus oleh yang muda tanpa pengalaman, dan dilakukan oleh banyak individu dengan cara yang sama, tanpa mereka tahu untuk apa itu dilakukan, biasanya dikatakan itulah naluri. Tetapi saya dapat memperlihatkan bahwa tidak ada sifat-sifat ini yang adalah universal; sedikit pertimbangan atau alasan, seperti kata Pierre Huber, sering berperan bahkan pada hewan tingkat rendah dalam skala alam.

Frederick Cuvier dan beberapa metafisikus lebih tua telah membandingkan naluri dengan kebiasaan. Menurut saya, perbandingan ini memberikan suatu kerangka berpikir yang akurat, atas mana suatu tindakan naluriah dilakukan, tetapi tidak niscaya merupakan asal-usulnya. Bagaimana secara tidak sadar, banyak kebiasaan dilakukan, tidak jarang bertentangan langsung terhadap kemauan kita sendiri, namun mereka dapat dimodifikasi dengan kemauan atau dalih (reason). Kebiasaan mudah diasosiasikan dengan kebiasaan lain, dengan jangka waktu tertentu, dan kondisi tubuh. Bila sekali diperoleh, kebiasaan sering akan tetap konstan selama hidup. Beberapa titik kemiripan antara naluri dan kebiasaan dapat dikemukakan dalam bentuk seperti mengulang-ulang satu tindakan mengikuti dengan semacam irama tertentu. Bila seseorang diganggu saat melantunkan sebuah lagu, atau saat mengeja hafalannya, ia umumnya akan kembali untuk membetulkan kebiasaan rangkaian pemikiran. Demikianlah yang ditemukan P. Huber pada ulat bulu, yang membuat suatu sarang sangat rumit, karena bila ia mengambil ulat yang menyelesaikan sarangnya hingga, katakanlah, tahap ke enam konstruksi, lalu menempatkannya di dalam sarang yang selesai hingga tahap ketiga raja, ulat itu dengan sederhana akan melakukan dang tahap keempat, kelima dan tahap keenam. Namun bila ulat diambil dari tempat sarang, misalnya saat tahap ketiga, lalu ditempatkan ke tahap penyelesaian keenam, sehingga banyak pekerjaan sebetulnya sudah dilakukan untuknya, maka ulat itu bukannya memanfaatkan keuntungan dari bonus pekerjaan tersebut, ia malah tampak sangat canggung. Untuk merampungkan sarangnya, ia malahan mulai dari tahap ketiga, tempat ia tadi meninggalkannya, dan dengan demikian mencoba menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya sudah selesai.

Bila kita mengandaikan bahwa setiap kebiasaan akan diwariskan, dan dapat diperlihatkan bahwa hal ini kadang memang terjadi, maka kemiripan antara spa yang aslinya adalah kebiasaan dan naluri, menjadi begitu dekat, seperti tidak dapat lagi dibedakan, Bila Mozart, sebagai ganti memainkan piano forte pada usia tiga tahun dengan sedikit latihan, bisa memainkan suatu lagu tanpa praktek sama sekali, ia dapat benar-benar dikatakan melakukannya secara naluri. Akan tetapi adalah kesalahan series pengandaian bahwa sejumlah besar naluri telah diperoleh dengan kebiasaan dalam satu generasi dan kemudian diteruskan dengan warisan ke generasi yang menggantikannya. Dapat dengan jelas diperlihatkan bahwa naluri paling mengagumkan yang kita kenal — yaitu naluri lebah pengumpul dan naluri dari banyak semut — tidak mungkin diperoleh lewat kebiasaan.

Secara universal diakui bahwa naluri sama pentingnya dengan struktur tubuh demi mempertahankan hidup setiap spesies dalam kondisi-kondisi hidupnya sekarang. Bila kondisi-kondisi hidupnya berubah, mungkin paling tidak modifikasi-­modifikasi kecil naluri masih menguntungkan spesies. Dan bila dapat diperlihatkan bahwa naluri memang pernah berubah sedikit, maka saya dapat melihat bahwa tidak ada kesulitan dalam seleksi alam untuk memelihara dan terus-menerus mengakumulasikan perubahan-perubahan naluri sejauh yang menguntungkan. Jadi, saya yakin, bahwa semua naluri yang paling kompleks dan mengagumkan memiliki asal-usul. Sebagaimana modifikasi struktur  tubuh timbal dari dan meningkat dengan penggunaan atau kebiasaan, lantas kemudian berkurang atau hilang dengan tidak digunakan, begitu juga saya tidak raga hal itu terjadi dengan naluri. Akan tetapi saya juga yakin bahwa pengaruh kebiasaan, dalam banyak hal, tidak sepenting pengaruh seleksi alam, dalam hal “variasi naluri secara spontan”- yakni perubahan yang dihasilkan oleh hal-hal yang-tidak diketahui, yang menghasilkan sedikit deviasi struktur tubuh.

Tidak ada naluri kompleks yang dapat dihasilkan melalui seleksi alam, kecuali dengan akumulasi perubahan kecil-kecil yang banyak, perlahan-lahan dan gradual, namun menguntungkan. Oleh karena itu, sebagaimana struktur tubuh, kita seharusnya menemukan di alam, bukan gradasi transisional aktual, dengan mana setiap naluri kompleks telah diperoleh,— karena ini dapat hanya ditemukan dalam nenek moyang langsung setiap spesies — tetapi seharusnya kita temukan dalam garis keturunan sejajar suatu bukti gradasi tersebut. Atau kita paling tidak harus mampu memperlihatkan bahwa suatu gradasi itu mungkin, dan untuk ini kita pasti dapat melakukannya.

Saya terheran-heran saat mempelajari dan menemukan naluri-naluri binatang yang hanya bisa ditemukan di Eropa dan Amerika. Utara, karena tidak ada naluri yang kita ketahui dari spesies-spesies yang sudah punch, bagaimana gradasi-gradasi yang paling umum menjurus ke naluri paling kompleks. Perubahan naluri kadang-kadang dapat difasilitasi oleh spesies yang sama yang memiliki naluri berbeda pada periode kehidupan atau pada musim tahunan yang berbeda, atau ketika menempati kondisi-kondisi tertentu yang berbeda, dan seterusnya. Dalam hal ini, baik naluri yang satu maupun naluri yang lain dapat dipertahankan dengan seleksi alam. Dan contoh-contoh aneka ragam naluri tersebut dalam spesies yang sama dapat diperlihatkan terjadi di alam bebas.

Lagi, seperti dalam struktur tubuh, dan ini sesuai dengan teori saya, naluri setiap spesies adalah baik bagi dirinya sendiri, akan tetapi tidak pernah, sejauh dapat kita nilai, dihasilkan untuk eksklusif kebaikan spesies lain. Satu dari contoh-contoh yang paling kuat dari hewan yang tampaknya melakukan suatu tindakan untuk kebaikan spesies lain, yang saya kenal adalah kale-daun (Aphides), yang dengan sukarela menghasilkan, seperti pertama kali diamati Huber, kotorannya yang manis kepada semut. Fakta berikut memperlihatkan tindakan sukarela mereka: saya menyingkirkan semua semut dari sekelompok kurang lebih selusin kutu-daun pada tanaman dok, dan mencegah kehadiran mereka selama beberapa jam. Setelah waktu jeda ini, saya merasa yakin bahwa kutu-kutu daun itu ingin mengeluarkan kotorannya. Saya mengamati mereka beberapa saat melalui kaca pembesar, tetapi tak satupun membuang kotorannya. Saya kemudian menggelitik dan mengelus mereka dengan sebuah rambut dengan cara yang sama seperti elusan semut dengan antenanya, sebaik saya bisa, akan tetapi tidak satu pun kutu-daun itu mau mengeluarkan kotoran. Kemudian saya menaruh satu semut untuk mengunjungi mereka, dan langsung tampak, semut itu dengan bersemangat berputar-putar, sadar benar menemukan sekelompok hewan lain yang begitu kaya. Semut kemudian mulai bermain dengan antenanya pada perut satu kutu­ daun, kemudian pada yang lain juga, dan setiap kutu-daun begitu merasakan sentuhan antena semut, langsung mengangkat perutnya dan mengeluarkan tetesan jernih cairan manis, yang dengan bersemangat dimakan oleh semut. Bahkan kutu-daun yang masih sangat muda berkelakuan demikian. Ini memperlihatkan bahwa tindakannya itu adalah naluri, bukan basil pengalaman.

Adalah pasti dari pengamatan Huber, bahwa kutu-daun tidak memperlihatkan sikap tidak suka terhadap semut. Bila semut tidak ada, mereka pada akhirnya terpaksa mengeluarkan kotoran juga. Tetapi karena kotorannya sangat kental dan lengket, maka ia tidak menolak pembersihan secara gratis oleh semut, oleh karena itu mereka mungkin mengeluarkan kotoran tidak semata-mata untuk kebaikan semut. Meskipun tidak ada bukti bahwa setiap hewan melakukan tindakan untuk semata-mata kebaikan spesies lain, namun masing-masing mencoba untuk mengambil keuntungan dari struktur tubuh yang lebih lemah dari spesies lain. Dengan demikian, naluri-naluri tertentu tidak dapat dipandang sebagai mutlak sempurna, akan tetapi karena detail-detail alas hat ini dan bukti-bukti lain seperti itu tidak mutlak perlu, maka di sini dapat dilewati saja.

Karena suatu tingkat variasi dalam naluri di bawah kondisi alam, dan warisan variasi-variasinya sangat penning untuk tindakan seleksi alam, sebanyak mungkin contoh seharusnya diberikan, tetapi keterbatasan ruing menghalangi saya. Saya hanya dapat menyatakan bahwa naluri memang bervariasi — misalnya naluri migrasi, baik dalam persebaran maupun arahnya, dan jumlah kehilangan nalurinya secara total. Begitu pula dengan sarang-sarang burung yang bervariasi, sebagian tergantung pada situasi yang dipilih, pada alam dan suhu daerah yang dihuni, tetapi sering dari sebab-sebab yang kita sama sekali tidak tahu.

Audubon memberi beberapa kasus sangat menarik tentang sarang-sarang species yang sama di bagian utara dan bagian selatan Amerika Serikat. Kita boleh  bertanya, mengapa, bila naluri itu variabel, kepada lebah tidak diberi “kemampuan menggunakan beberapa bahan lain bila bahan lilin (wax) tak, mencukupi?” Bahan alami lain apa yang dapat digunakan lebah? Mereka bekerja, seperti yang telah saya lihat, dengan bahan lilin yang diperkeras dengan bahan vermilion atau dilunakkan dengan minyak (lard). Andrew Knight mengamati bahwa lebah-lebah yang ditelitinya, bukannya rajin mengumpulkan propolis namun menggunakan semen lilin dan terpenting yang digunakannya menutupi kayu-kayu pohon.

Belum lama ini diperlihatkan pula bahwa lebah, daripada mencari tepung sari, akan dengan senang menggunakan suatu zat yang sangat berbeda, yaitu tepung gandum. Takut akan musuh tertentu, sudah pasti merupakan suatu kualitas naluri seperti dapat dilihat pada burung yang mempunyai sarang, meskipun naluri ini diperkuat oleh pengalaman, dan ketakutan pada musuh yang sama pada hewan-hewan lain. Ketakutan pada manusia perlahan-lahan diperoleh, seperti yang telah saya perlihatkan di lain tempat, dengan berbagai hewan yang mendiami  pulau-pulau padang pasir. Dan kita lihat suatu contoh tentang hat ini bahkan di Inggris dalam kebuasan semua burung besar kita dibanding dengan burung-­burung yang lebih kecil, karena burung besar paling banyak diburu manusia. Kita dapat dengan aman merujukkan lebih buasnya burung besar kita itu pada sebab ini, karena di pulau-pulau yang tidak dihuni, burung besar tidak memperlihatkan ketakutan berlebihan dibandingkan burung-burung yang kecil, dan burung gagak (Magpie) begitu waspada di Inggris, tapi jinak di Norwegia seperti burung gagak Mesir.

Bahwa kualitas mental hewan dari satu jenis hewan yang sama, yang lahir di alam banyak bervariasi, dapat diperlihatkan dengan banyak fakta. Beberapa kasus juga dapat dikemukakan tentang kebiasaan yang kadang-kadang aneh pada hewan liar, yang bila menguntungkan bagi spesies itu, dapat menimbulkan naluri baru melalui seleksi alam. Akan tetapi saya benar-benar sadar bahwa pernyataan-pernyataan umum ini, tanpa fakta yang rinci, hanya lemah saja pengaruhnya dalam, ingatan pembaca. Saya hanya dapat mengulangi jaminan saya, bahwa saya tidak berbicara tanpa bukti yang handal.

Perubahan Kebiasan atau Naluri Warisan pada Hewan Peliharaan

Kemungkinan atau bahkan kemungkinan besar variasi naluri yang diwarisi dalam keadaan alamiah akan diperkuat bila kita mau secara singkat mempertimbangkan beberapa kasus hewan dalam peliharaan. Kita jadinya mampu melihat bagian apa yang diperankan kebiasaan dan apa peran seleksi yang disebut variasi spontan dalam memodifikasi sifat mental hewan peliharan kita. Sudah sangat dikenal bagaimana besarnya variasi sifat mental hewan peliharaan kita. Kucing misalnya, secara alami menangkap tikus besar, sedangkan kucing yang lain mencari tikus ukuran biasa, dan kecenderungan ini dikenal sebagai warisan dari generasi sebelumnya. Seekor kucing, menurut Mr. St. John, selalu membawa pulang burung basil buruan; kucing lain membawa pulang terwelu atau kelinci; kucing yang lain lagi berburu di tanah paya dan hampir setiap malam menangkap burung woodcocks atau burung snipe. Sejumlah contoh aneh dan otentik berbagai corak pembawaan dan selera dapat diberikan, dan begitu juga ulah paling ganjil berkaitan dengan kerangka pikir atau jangka waktu tertentu, saat diwariskan.

Tetapi, mari kita lihat kasus yang sudah kita kenal baik dari anjing peliharaan: tak diragukan lagi bahwa anjing-anjing pemburu muda (saya sendiri pernah melihat satu contoh menarik) terkadang malah akan memburu dan bahkan menghalau anjing-anjing lain sewaktu pertama kali dibawa keluar. Kemampuannya mencari dan membawa pulang dalam derajat tertentu pasti diwarisi oleh anjing yang dapat mengembalikan barang yang hilang (anjing pelacak); kecenderungan untuk berputar-mengitari, bukannya menuju sekelompok domba, adalah kecenderungan anjing gembala. Saya tidak dapat melihat bahwa tindakan ini, yang dilakukan tanpa pengalaman oleh yang muda, dan hampir secara sama oleh setiap individunya, dilaksanakan dengan kegairahan oleh setiap turunannya, dan tanpa tahu akhirnya, karena anjing pemburu muda tidak tahu bahwa ia memburu untuk majikannya, Sedangkan kupu-kupu putih tahu mengapa ia menempatkan telurnya di atas daun kubis. Saya tidak dapat melihat bahwa tindakan-tindakan ini pada hakekatnya berbeda dengan naluri.

Seandainya kita memandang satu jenis serigala muda yang tanpa pelatihan apapun, begitu mencium mangsanya, ia berdiri tidak bergerak seperti patung, kemudian perlahan-lahan merangkak maju dengan daya berjalan yang khas. Sedangkan jenis serigala lain berlari-lari mengitari dahulu, tidak langsung “to the point” menuju sekelompok kijang dan menghalaunya ke tempat jauh. Kita pasti akan menamakan tindakan ini naluriah. Sedangkan naluri hewan peliharaan, kalaupun dapat dinamakan begitu, pasti jauh kurang tajam, dan telah diproses oleh seleksi yang jauh kurang ketat dan telah dialihkan untuk waktu lebih pendek, sehingga terbandingkan, serta di bawah kondisi kehidupan yang kurang lebih tetap.

Seberapa kuat naluri hewan peliharaan, kebiasaan dan pembawaan diwarisi, dan seberapa besar mereka berbaur, dapat diperlihatkan dengan baik apabila keturunan anjing yang berlainan disilangkan. Kita tahu bahwa persilangan anjing pacuan (greyhound) dengan anjing bulldog telah mempengaruhi selama banyak generasi keberanian dan kegigihan anjing pacuan; dan persilangan anjing gembala dengan anjing pacuan telah memberikan seluruh famili anjing gembala kecenderungan untuk memburu kelinci. Naluri hewan peliharaan ini, ketika diuji dengan cara kawin silang, dalam jangka panjang akan memperlihatkan jejak-jejak naluri kedua asal-usul induk-nya: misalnya Le Roy menggambarkan seekor anjing, yang kakeknya adalah serigala, dan anjing ini menunjukkan suatu jejak keliarannya hanya dengan satu cara, yaitu tidak mendatangi majikannya dalam garis lurus, bila dipanggil.

Naluri hewan peliharaan kadang-kadang dikatakan sebagai tindakan yang diwarisi semata-mata dari kebiasaan yang telah berlangsung lama dan kebiasaan karena latihan (compulsory), akan tetapi ini tidak benar. Tak seorang pun pernah berpikir untuk mengajari burung merpati tumbler untuk berjungkir-balik. Suatu perilaku yang saya saksikan dilakukan oleh burung-burung muda yang tidak pernah menjadi burung merpati tumbler. Kita boleh percaya bahwa seekor merpati yang memperlihatkan kecenderungan kebiasaan aneh ini dan seleksi berkelanjutan terus-menerus dari mereka yang terbaik, dari generasi ke generasi, membuat merpati tumbler menjadi seperti yang sekarang ini. Dekat Glasgow ada merpati tumbler rumahan (house tumblers) yang tidak dapat terbang setinggi delapan betas inci tanpa tunggang langgang seperti saya dengar dari Mr. Brent.

Patut diragukan apakah seseorang pernah berpikir melatih seekor anjing untuk berburu, bila anjing itu secara alamiah tidak menunjukkan kecenderungan ke arah itu. Hal ini kadang-kadang saja terjadi, seperti pernah saya lihat pada seekor anjing terrier murni. Perilaku berburu, seperti sangkaan banyak orang, barangkali hanya saat berhenti yang lama oleh seekor hewan yang siap-siap untuk menerkam mangsanya. Apabila kecenderungan untuk berburu pertama kali muncul, seleksi metodis dan pengaruh yang diwarisi karena pelatihan dari generasi ke generasi, akan segera melengkapinya, dan seleksi spontan masih terus berlangsung, karena setiap orang coba memperolehnya tanpa bermaksud memperbaiki keturunan anjing-anjing pemburu yang paling baik.

Di lain pihak, kebiasaan saja dalam beberapa kasus sudah mencukupi; hampir tidak ada hewan yang lebih sulit untuk dijinakkan daripada kelinci muda yang liar; dan jarang ada binatang yang lebih jinak daripada kelinci yang sudah jinak. Tetapi saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kelinci peliharaan telah diseleksi karena sifat jinaknya saja; sehingga kita harus melihat paling tidak sebagian besar perubahan yang telah diwariskan dari sifat liar yang ekstrem hingga sifat jinak yang ekstrem, membentuk kebiasaan dan pengurungan yang berlangsung lama atas binatang-binatang itu.

Naluri alamiah dapat hilang dalam pemeliharaan. Suatu contoh sangat mencolok tenting ini terlihat dalam turunan-turunan unggas yang sangat jarang atau tidak pernah menjadi “pengeram” – tidak pernah mau duduk di atas telurnya. Kedekatan hubungan saja mencegah kita melihat bagaimana besar dan permanennya hewan-hewan domestik kita telah dimodifikasi.

Hampir tidak dapat diragukan bahwa kecintaan manusia telah menjadi naluri pada anjing. Semua serigala, rubah, anjing hutan, dan spesies dari genus kucing, jika dijaga tetap jinak, paling suka menyerang ternak ayam. domba dan babi. Dan kecenderungan ini didapatkan tidak dapat disembuhkan pada anjing yang dibawa pulang ke rumah sebagai anak anjing dari negara seperti Tierra del Fuego dan Australia, tempat penduduk priburninya tidak memelihara hewan-hewan domestik ini. Di sisi lain, betapa jarang anjing-anjing kita yang dibudidaya­kan, bahkan bila sangat muda, perlu diajari Untuk tidak menyerang ternak ayam, domba dan babi. Tidak diragukan mereka kadang-kadang membuat serangan, dan kemudian dipukuli. Dan bila tidak dapat disembuhkan, mereka dimusnahkan. Dengan demikian kebiasaan dan suatu derajat seleksi barangkali berjalan dalam membudayakan anjing-anjing kita melalui warisan. Sebaliknya, karena kebiasaan, ayam muda telah kehilangan sama sekali ketakutan akan anjing dan kucing yang tidak diragukan pada asalnya adalah naluri mereka, karena saya diberitahu oleh Kapten Hutton bahwa ayam muda dari stok nenek- moyang Gallus bankiva, bila diternakkan di India di bawah induk ayam, pertama-lama sangat liar. Begitu pula dengan burung Kuau yang diternakkan di Inggris di bawah induk ayam. Bukannya bahwa anak-anak ayam telah kehilangan semua rasa takut, tetapi takut hanya kepada anjing dan kucing, karena bila induk ayam membunyikan suara tanda bahaya, mereka akan lari (lebih khusus lagi pada ayam Kalkun) dari bawah induknya, dan menyembunyikan diri di rerumputan sekitarnya atau semak belukar. Dan hal ini terbukti dilakukan untuk maksud naluri menyempatkan induknya terbang seperti kita lihat pada burung liar. Tetapi naluri ini, yang dipertahankan oleh ayam kita telah menjadi tidak berguna dalam peliharaan, karena induk ayam hampir kehilangan daya terbangnya karena tidak digunakan.

Oleh karena itu kita dapat menarik kesimpulan, bahwa dalam domestikasi, naluri baru didapatkan, dan naluri alami telah hilang, sebagian oleh kebiasaan dan sebagian oleh manusia yang menyeleksi dan mengakumulasi selama banyak generasi, kebiasaan mental dan tindakan yang khas, yang semula tampil dari apa yang karena ketidaktahuan kita dinamakan sebagai kebetulan. Dalam beberapa kasus, kebiasaan karena latihan saja telah mencukupi untuk menghasilkan perubahan mental yang diwarisi. Dalam kasus lain, kebiasaan karena latihan tidak membuahkan apa-apa. Dan semua adalah basil seleksi baik yang metodis dan maupun tanpa radar. Tetapi dalam kebanyakan kasus, kebiasaan dan seleksi kemungkinan berlangsung bersama-sama.

Naluri-naluri Khusus

Barangkali kita akan dapat memahami sebaik-baiknya bagaimana naluri dalam keadaan alam telah dimodifikasi oleh seleksi dengan menimbang beberapa kasus. Saya akan memilih hanya tiga ialah naluri yang membawa burung Cuckoo meletakkan telurnya di sarang burung lain, naluri semut tertentu yang memperbudak semut lain, dan kemampuan lebah sarang membuat sel-sel. Naluri dua yang terakhir telah digolongkan umum dan secara tepat oleh para naturalis sebagai yang paling mengagumkan dari semua naluri yang pernah diketahui.

Naluri burung Cuckoo dari famili Cucididae. Beberapa naturalis menduga bahwa sebab lebih langsung naluri burung ini adalah, bahwa ia bertelur tidak setiap hari, tetapi berjeda dua atau tiga hari, sehingga seandainya ia harus membuat sarang sendiri dan mengerami telur-telurnya sendiri, telur pertama yang diletakkan akan harus ditinggal dan selama beberapa waktu tanpa dierami, atau akan ada telur-telur baru dan anakan burung yang umurnya bervariasi di dalam sarang yang sama. Bila ini kasusnya, proses bertelur dan mengerami akan lama dan tidak menyenangkan, lebih khusus lagi karena ia bermigrasi pada masa sangat awal dan yang paling pertama menetas kemungkinan harus diberi makan oleh yang jantan. Akan tetapi perilaku Cuckoo betina Amerika tidak seperti ini; karena ia membuat sarangnya sendiri, dan telur dan anak­-anaknya diteteskan, semua pada waktu yang sama. Hal ini dibenarkan dan sekaligus menyangkal anggapan bahwa Cuckoo Amerika kadang-kadang bertelur di sarang burung lain. Tetapi belum lama ini saya mendengar dari Dr. Merrell dari Iowa, bahwa ia pernah menemukan di Illinois Cuckoo muda bersamaan dengan burung Jay muda di sarang Blue Jay (Garrulus cristatus). Karena keduanya hampir berbulu lengkap, tidak akan ada kesalahan dalam mengidentifikasi mereka. Saya juga dapat memberi contoh berbagai burung, yang diketahui kadang-kadang bertelur di sarang burung lain.

Sekarang mari kita andaikan bahwa nenek moyang purba dari Cuckoo Eropa memiliki kebiasaan Cuckoo Amerika, dan kadang-kadang bertelur di sarang burung lain. Apabila burung tersebut diuntungkan oleh kebiasaan ini, karena lalu bisa bermigrasi lebih awal, atau bisa melakukan hal-hal lain, atau bila anak-anaknya menjadi lebih kuat atau lebih baik karena keuntungan yang diambil dari kesalahan naluri induk spesies lain ketimbang dipelihara induknya sendiri, dan induk mereka juga memperoleh keuntungan karena tidak dibebani oleh mass mengerami dan menetaskan anak-anaknya yang panjang, karena telur dan anak-anak berbeda-beda umur, maka di sini dapat dikatakan bahwa kedua belah pihak sama-sama diuntungkan. Dan analogi ini membawa kita untuk percaya, bahwa anak-anak burung tersebut kemungkinan besar akan cenderung mengikuti warisan kebiasaan menyimpang tadi dari ibu mereka. Dan pada gilirannya, keturunannya cenderung akan bertelur di sarang burung lain, sehingga lebih berhasil lagi dalam mengasuh anaknya. Saya yakin bahwa naluri aneh Cuckoo ini ditimbulkan oleh proses pewarisan sifat. Hal ini juga baru-baru saja dipastikan dengan bukti-bukti yang cukup oleh Adolf Muller, bahwa Cuckoo terkadang bertelur di “atas tanah, mendudukinya, dan memberi makanan anak-anaknya.” Kejadian langka ini mungkin suatu kasus pembalikan (reversi) ke naluri asli membuat sarang yang telah lama hilang.

Terhadap hal ini telah diajukan keberatan, bahwa saya tidak memperhatikan naluri terkait lainnya dan penyesuaian struktur pada Cuckoo yang dikatakan sebagai perlu untuk koordinasi. Tetapi dalam semua kasus, spekulasi atas satu naluri-saja yang kita kenal dalam spesies tunggal, tidak berguna, karena hingga kini kita tidak memiliki fakta yang bisa dipakai sebagai acuan. Hingga baru­-baru ini saja, naluri Cuckoo Eropa dan Cuckoo non-parasitik Amerika saja yang diketahui. Sekarang menurut pengamatan Mr. Ramsay, kita tahu sesuatu tentang tiga spesies Australia yang meletakkan telur-telurnya di sarang milik burung lain. Alasan utama perilaku seperti ini ialah: pertama, bahwa Cuckoo biasa, dengan sedikit kekecualian, hanya bertelur satu butir di sarangnya, sehingga anakan burung itu dengan rakus melahap banyak makanan. Kedua, bahwa telurnya sangat kecil, tidak melebihi telur burung Skylark sebesar seperempat Cuckoo. Bahwa ukuran kecil telur adalah suatu sebab adaptasi nyata, sehingga kita lalu dapat menarik kesimpulan dari fakta itu, bahwa Cuckoo Amerika non­parasitik bertelur dengan ukuran penuh. Ketiga, bahwa anakan Cuckoo, segera setelah lahir, memiliki naluri kekuatan, dan bagian punggungnya berbentuk sedemikian rupa, sehingga mampu mendepak keluar saudara-saudara angkatnya yang kemudian tewas kedinginan dan kelaparan. Banyak ahli menamakannya “pengaturan yang bijak”, sehingga anakan Cuckoo mendapat cukup makanan, dan saudara-saudara angkatnya tewas sebelum mereka sadar!

Sekarang kita kembali ke spesies Australia. Meskipun burung ini umumnya hanya meletakkan satu telur dalam satu sarang, tidak jarang ditemukan dua telur bahkan tiga telur dalam sarang yang sama. Pada Cuckoo warns perunggu, telurnya sangat bervariasi dalam ukuran. Agar menguntungkan bagi spesies ini untuk memiliki telur yang lebih kecil lagi daripada yang diletakkan sekarang, guna menipu orang tua angkatnya (foster parents), atau yang lebih mungkin, mengeraminya dalam waktu yang lebih pendek (karena ada yang menyatakan terdapat kaitan antara ukuran telur dan waktu inkubasi), maka tidak sulit untuk percaya, bahwa suatu ras atau spesies dapat terbentuk, yang akan bertelur makin lama makin kecil, agar supaya telur itu dierami dan dijaga lebih aman. Mr. Ramsay mengatakan bahwa anak Cuckoo Australia, bila mereka bertelur di sarang terbuka, ia memperlihatkan kecondongan yang pasti bahwa warna telur burung lain sama dengan yang mereka miliki. Spesies Eropa tarnpaknya menunjukkan kecenderungan ke naluri yang sama, tetapi tidak jarang warnanya berbeda; meletakkan telurnya yang berwarna buram, dan pucat dalam sarang burung Hedge-warbler yang warna telurnya biru cerah kehijau–hijauan. Bila Cuckoo kita selalu memperlihatkan naluri demikian, sudah pasti seharusnya ditambahkan pada naluri di atas. Telur Cuckoo perunggu Australia bervariasi, menurut Mr. Ramsay, sampai tingkat luar biasa dalam warns, sehingga dalam kaitan ini, juga dalam ukuran, seleksi slam dapat dijamin akan menetapkan variasi spa pun yang menguntungkan.

Dalam kasus Cuckoo Eropa, keturunan induk angkat biasanya didepak keluar dari sarang dalam tiga hari setelah Cuckoo itu menetas. Karena Cuckoo pada umur ini masih dalam kondisi tak berdaya, Mr. Gould sebelumnya cenderung mengira bahwa tindakan mendepak keluar itu dilakukan sendiri oleh induk angkat. Tetapi ia sekarang menerima kepastian yang sahih tentang anakan Cuckoo yang benar-benar ia lihat, bahwa sejak burung itu masih buta dan bahkan belum mampu untuk menegakkan kepalanya sendiri, ia sudah mampu mendepak saudara angkatnya. Satu dari mereka, diganti oleh pengamat dan lagi-lagi didepak. Tentang asal dari mana naluri aneh dan mengerikan ini diperoleh: bila sangat penting bagi anakan Cuckoo untuk menerima makanan sebanyak mungkin setelah menetas, saya lihat tidak ada kesulitan khusus untuk secara perlahan­-lahan selama bergenerasi-generasi, anakan Cuckoo itu mewujudkan keinginan untuk makan sebanyak mungkin, dengan kekuatan dan struktur tubuh yang perlu untuk pekerjaan mendepak keluar tersebut. Bagi anakan burung ini, yang memiliki kebiasaan dan struktur yang berkembang paling baik, akan pasti paling aman. Langkah pertama untuk memperoleh naluri yang tepat mungkin adalah kegelisahan yang lebih tidak disengaja. Bila sudah agak berumur dan kuat, kebiasaan itu kemudian dikembangkan dan diteruskan ke umur yang lebih dini.

Saya tidak melihat kesulitan lagi dalam hal ini ketimbang dalam kasus anak burung lain yang tidak dierami, yang mendapatkan naluri lain, yakni mampu memecahkan kulit telurnya sendiri; atau anakan ular memperoleh pada rahang atas, seperti telah dinyatakan Owen, sebuah gigi tajam sementara, guna memecahkan kulit telurnya. Karena, bila setiap bagian dapat mengalami variasi individual pada setiap tahap dan variasi-variasi condong diwariskan pada usia setara atau lebih dini – sebuah proposisi yang tak dapat dibantah lagi – maka naluri dan struktur yang muda dapat perlahan-lahan dimodifikasi, seperti mereka yang sudah dewasa. Dan keduanya harus berdiri atau tumbang bersama-sama dengan teori keseluruhan seleksi alam.

Beberapa spesies Molothrus, suatu genus burung Amerika lain yang luas berkerabat dengan burung Starling kita, memiliki kebiasaan parasitik seperti Cuckoo, dan spesies tersebut menyajikan gradasi yang menarik dalam menyempurnakan naluri mereka. Kelamin Molothrus badius dinyatakan oleh pengamat ulung, Mr. Hudson, kadang hidup bersama dalam kawanan, kadang berpasangan. Mereka membuat sarangnya sendiri maupun merampas sarang milik burung lain, kadang dengan mengusir mereka yang berada di dalam sarang. Mereka meletakkan telurnya di dalam sarang yang dimiliki dengan cara merampasnya dari burung lain, atau dengan cara lain yang cukup aneh, yaitu membuat sarangnya sendiri di atasnya. Mereka biasanya mengerami telur mereka sendiri dan mengasuh anak-anak mereka sendiri. Tetapi Mr. Hudson berkata, mungkin mereka itu terkadang parasitik karena ia telah melihat anak spesies ini mengikuti burung-burung tua jenis lain dan memekik-mekik untuk diberi makan oleh mereka.

Kebiasaan parasitik spesies lain Molothrus, yakni M. bonariensis, lebih canggih daripada yang tadi, akan tetapi masih jauh dari sempurna. Burung ini, sepanjang diketahui, selalu meletakkan telurnya di sarang burung lain, tetapi ajaibnya bahwa kadang-kadang mereka secara bersama membuat sarang sendiri yang tidak teratur, tidak rapih, dan ditempatkan dalam situasi tidak cocok dan aneh, seperti pada daun tumbuhan tistle yang besar. Namun, sejauh Mr. Hudson memastikan, mereka tidak pernah menyelesaikan sarang mereka sendiri. Mereka bertelur banyak, dari 15 hingga 20 dalam sarang burung lain yang sama, hingga sedikit atau tidak ada kemungkinan untuk dapat dierami. Lagipula, mereka memiliki kebiasaan aneh, yaitu mencucuk lubang di telur-telur spesiesnya sendiri atau telur dari induk angkat, yang mereka temui di sarang-sarang itu. Mereka juga menjatuhkan banyak telur di tanah kerns sehingga sia-sia jadinya.

Spesies ketiga, M. pecoris dari Amerika Utara, memperoleh naluri sesempurna Cuckoo, karena tidak pernah meletakkan lebih dari satu telur di sarang tumpangannya, sehingga anakannya terjamin pengasuhannya. Mr. Hudson adalah orang yang sangat tidak percaya pada evolusi, tetapi ia tampaknya cukup kaget dengan naluri Molothrus Bonariensis yang tidak sempurna, sehingga ia mengutip kata-kata saya, dan bertanya “Haruskah kita melihat kebiasaan­-kebiasaan ini, bukan sebagai naluri yang diberikan secara khusus atau diciptakan, tetapi sebagai konsekuensi kecil dari suatu hukum umum, yaitu transisi?”

Berbagai burung, kadang bertelur di sarang burung lain. Kebiasaan ini bukan tidak umum pada Gallinaceae, dan sedikit mengungkapkan naluri aneh burung unta. Dalam keluarga ini, beberapa burung betina berkumpul dan bertelur beberapa butir di satu sarang dan kemudian di sarang lain, dan telur-telur ini dierami oleh yang jantan. Naluri ini barangkali menerangkan fakta bahwa betina bertelur banyak, sebagaimana pada burung elang, berjedah (interval) dua atau tiga hari. Namun, naluri burung unta Amerika seperti dalam kasus Molothrus bonariensis, belum sempurna, karena sejumlah besar telur berserakan di tanah, sehingga dalam satu hari perburuan, saya memungut tidak kurang dari 20 telur yang terbuang sia-sia.

Banyak lebah bersifat parasitik, dan secara teratur meletakkan telur-telurnya di sarang jenis lebah lain. Hal ini lebih mengherankan lagi daripada Cuckoo, karena lebah tidak saja memiliki nalurinya, tetapi struktur mereka dimodifikasi sesuai dengan kebiasaan parasitik mereka, karena mereka tidak memiliki alat  pengumpul tepung sari yang mutlak perlu bila ingin menyimpan makanan untuk anak-anaknya sendiri. Beberapa spesies, Sphegidae (serangga seperti tawon) juga parasitik. Dan M. Fibre baru-baru ini memperlihatkan alasan yang kuat untuk mempercayainya, meskipun Tachytes nigra umumnya membuat lubangnya sendiri di tanah dan menyimpannya bersama mangsa-mangsa yang telah dilumpuhkan untuk larva mereka, namun bila serangga ini menemukan lubang tanah yang sudah dibuat dan dipakai menyimpan oleh spesies lain, ia memberanikan diri untuk menjadi parasitik. Dalam hal ini, seperti halnya Molothrus atau Cuckoo, saya tidak melihat kesulitan dalam seleksi alam untuk membuat suatu kebiasaan yang sifatnya kadang kala itu menjadi permanen bila menguntungkan bagi spesies, dan serangga yang sarangnya dan tempat untuk menyimpan makanannya secara paksa dirampas, tidak dibunuhnya.

Naluri semut pembuat budak. Nalurinya yang menakjubkan itu pertama­-tama ditemukan dalam spesies Formica rufescens (Polyerges) oleh Pierre Huber, seorang pengamat yang lebih baik bahkan daripada ayahnya yang kenamaan. Semut ini total tergantung pada budak-budaknya. Tanpa bantuan budak, spesies ini pasti akan musnah dalam tempo satu tahun. Jantan dan betinanya yang subur tidak melakukan pekerjaan apapun, dan para pekerja atau betina-betina yang steril, meskipun paling giat dan paling berani menangkap budak, juga tidak melakukan pekerjaan lain. Mereka tidak bisa membuat sarang, atau memberi makan larvanya sendiri. Bila sarang yang lama dianggap tidak menyenangkan, dan harus bermigrasi, para budaklah yang menetapkan migrasinya, dan nyatanya memang mereka membawa majikan-majikannya dengan rahang mereka. Begitu tidak berdayanya tuan-tuan besar itu, sehingga bila Huber mengurung mereka tanpa budak, tetapi banyak makanan yang pa­ling mereka sukai, bersama larva dan kepompong mereka sendiri agar merangsang mereka bekerja, namun mereka tetap tidak melakukan apapun. Mereka bahkan tidak dapat makan sendiri, dan banyak yang mati karena kelaparan. Mika Huber lalu memasukkan seekor semut budak (F. Fusca) dan ia langsung bekerja, memberi makan dan menyelamatkan semut-semut yang masih hidup, membuat beberapa sel dan mengasuh beberapa larva, dan membereskan semuanya. Apa yang luar biasa daripada fakta yang sudah sangat pasti ini? Bila kita tidak mengetahui tentang semut-semut pembuat budak lain, maka sia-sialah untuk berspekulasi bagaimana suatu naluri semacam itu dapat disempurnakan oleh seleksi alam.

Begitu pula spesies lain, Formica sanguinea, pertama ditemukan oleh P. Huber sebagai semut pembuat budak. Spesies ini ditemukan di bagian Selatan Inggris dan kebiasaannya disaksikan oleh Mr. F. Smith, dari Museum Inggris. Saya berhutang budi atas informasinya tentang hal ini dan subjek-subjek lain. Meskipun sepenuhnya percaya atas pernyataan Huber dan Mr. Smith, saya mencoba mendekati subjek ini dalam, kerangka pikir skeptis, karena setiap orang berhak untuk meragukan suatu naluri yang begitu luar biasa seperti naluri untuk memperbudak. Saya akan menyampaikan hasil pengamatan saya dalam be­berapa rincian. Saya membuka empat bolas sarang F sanguinea, dan mene­mukan beberapa budak di dalamnya. Jantan dan betina yang subur dari spesies induk ini (F. fusca) hanya ditemukan di dalam komunitas mereka yang tepat, dan tidak pernah terlihat dalam sarang F sanguinea. Budak-budak ini berwarna hitam dan berukuran tidak sampai setengah dari ukuran majikannya yang berwarna merah, sehingga sangat kontras dalam penampilan. Pada waktu sarang mereka diganggu secara kecil-kecilan, para budaknya kadang keluar, dan seperti halnya majikan, mereka sangat terdorong untuk mempertahankan sarang. Jika sarangnya mengalami gangguan besar dan larva dan kepompong terancam, para budak dengan majikan mereka giat bekerja sama membawa mereka pergi ke suatu tempat yang aman. Karena itu, jelas bahwa para budak merasa sangat betah. Selama bulan Juni dan Juli tiga tahun berturut-turut, berjam jam saya mengamati beberapa sarang di Surrey dan Sussex dan tidak pernah melihat budak meninggalkan atau memasuki sarang. Karena selama bulan-bulan ini, para budak sangat sedikit jumlahnya, saya pikir bahwa mereka mungkin berperilaku lain bila lebih banyak. Tetapi Mr. Smith memberi tahu saya bahwa ia telah mengamati sarang pada berbagai jam selama bulan Mei, Juni dan Agustus, di Surrey dan Hampshire dan meskipun berjumlah banyak di bulan Agustus, tidak pernah melihat budak-budak meninggalkan atau memasuki sarang Oleh karena itu ia beranggapan, mereka semata-mata budak rumah tangga. Sebaliknya majikan, dapat dilihat terus-menerus memasukkan material untuk sarang, dan segala jenis makanan.

Namun di tahun 1860, dalam bulan Juli, saya menemukan suatu komunitas dengan suatu persediaan budak yang sangat luar biasa besar, dan saya lihat beberapa budak berbaur dengan majikannya meninggalkan sarang, dan berbaris sepanjang jalan yang sama ke sebuah cemara Scotch tinggi, sejauh 25 yard, yang mereka panjat bersama, mungkin mencari kutu daun (Aphides) atau Cocci. Menurut Huber yang banyak melakukan pengamatan, para budak di Swiss biasa bekerja dengan majikannya dalam membuat sarang, dan mereka sendiri membuka dan menutup pintu-pintu pagi dan sore hari. Dan seperti tegas dikatakan Huber, pekerjaan utama mereka adalah mencari kutu daun. Perbedaan dalam kebiasaan antara majikan dan budak ini di dua negara, barangkali karena para budak yang tertangkap di Swiss jumlahnya lebih besar daripada di Inggris.

Suatu hari saya beruntung menyaksikan migrasi F. sanguinea dari satu sarang ke sarang lain, dan suatu tontonan yang paling menarik adalah melihat para majikan dengan hati-hati membawa budaknya dalam rahang mereka, dan bukan mereka yang diusung para budaknya, seperti dalam kasus F. rufescens. Hari lain saya dikejutkan oleh penampilan semut-semut penghasil budak yang mengunjungi tempat yang sama, dan nyata-nyata tidak untuk mencari makanan. Mereka mendekat namun ditolak dengan gigih oleh komunitas spesies budak (F. Fusco), kadang-kadang sampai tiga ekor semut fusca ini melekat pada kaki semut-semut pembuat budak F. sanguinea, yang dengan kejam membunuh musuh-musuhnya yang kecil ini dan membawa tubuh mati mereka sebagai makanan ke sarang mereka, sejauh 29 yard. Tetapi mereka tidak mendapatkan kepompong satupun untuk dipelihara menjadi budak. Kemudian saya mengambil sekelompok kecil kepompong F. fusca dari sarang lain, dan meletakkannya di tempat kosong dekat medan pertempuran tadi. Mereka ditangkap dan dibawa pergi oleh para tiran itu, yang barangkali mengira bahwa akhirnya mereka telah menang dalam pertempuran tadi.

Bersamaan dengan itu di tempat yang sama saya letakkan sekelompok kecil kepompong dari spesi lain, F. flava, dengan beberapa semut kuning kecil ini melekat pada sisa-sisa sarang mereka. Spesies ini terkadang diperbudak, meskipun jarang, seperti dikatakan Mr. Smith. Meskipun spesies ini begitu kecil, ia sangat gesit, dan saya telah melihatnya dengan ganas menyerang semut lain. Pada suatu kesempatan saya heron menemukan suatu komunitas independen F. flava di bawah batu, persis di bawah sarang pembuat budak F. sanguinea. Dan bila saya kebetulan mengganggu kedua sarang, semut-semut kecil itu menyerang tetangganya yang lebih besar dengan keberanian yang mengagumkan. Lalu saya ingin memastikan apakah F. sanguinea dapat membedakan kepompong F. fusca, yang sudah biasa mereka jadikan budak dari F. flava yang kecil dan sangat pemarah, yang jarang mereka tangkap, dan ternyata mereka langsung bisa membedakan dan mengenalinya. Karena seperti kita telah lihat, mereka dengan bersemangat dan segera menangkap kepompong F. fusca, namun mereka sangat takut ketika bertemu kepompong atau bahkan tanah dari sarang F. flava, dan cepat-cepat lari menjauh. Tetapi dalam tempo kurang lebih seperempat jam, tak lama setelah semua semut kuning kecil F. flava itu pergi, mereka berani dan membawa pergi kepompongnya.

Suatu sore saya mengunjungi komunitas lain dari F. sanguinea, dan mendapatkan sejumlah semut ini kembali puling memasuki sarang mereka, membawa tubuh-tubuh mati F. fusca (yang memperlihatkan bahwa ini bukan suatu migrasi) dan banyak sekali kepompong. Soya menyusuri batik iring-iringan panjang semut yang sedang mengusung barang rampasan, sejauh sekitar 40 yard, ke semak-semak yang sangat tebal. Di tempat itu saya melihat individu terakhir F. sanguinea muncul, membawa kepompong. Tetapi saya tidak menemukan sarang kosong di dalam semak-semak itu. Namun sarangnya tentu dekat saja, karena dua atau tiga individu F. fusca berlarian sangat tergopoh­-gopoh, dan satu ekor diam tak bergerak dengan kepompongnya sendiri dalam mulutnya di atas sejumput rumput, suatu ungkapan putus asa melihat rumahnya yang dirampok.

Itulah faktanya, jadi tidak perlu saya perjelas lagi, mengenai naluri ajaib untuk memperbudak ini. Marilah diamati kontras apa yang disajikan oleh kebiasaan naluriah F. sanguinea dengan kebiasaan naluriah F. fefuscens kontinental. Yang disebut terakhir ini tidak membuat sarangnya sendiri, tidak menemukan migrasinya sendiri, tidak mencari makan untuk diri maupun anaknya sendiri, bahkan tidak dapat mencari makan untuk dirinya sendiri. Mereka sama sekali tergantung pada budak-budaknya. Di lain pihak, F. sanguinea memiliki budak lebih sedikit, dan di awal musim panas bahkan luar biasa sedikit para majikan menentukan kapan sarang baru harus dibuat dan kapan harus bermigrasi dan kalau berimigrasi majikanlah yang menggendong budak.

Baik di Swiss maupun di Inggris, budak-budak tampaknya ditugasi khusus untuk pemeliharaan larva dan para majikan sendiri pergi mencari budak-budak. Di Swiss, budak-budak dan majikan bekerja sama, membuat dan membawa material untuk sarang; keduanya, tetapi terutama budak-budak, memelihara dan memerah susu (kalau boleh disebut demikian) kutu-kutu daun; dengan demikian keduanya mencari pangan untuk kornunitasnya. Di Inggris hanya majikan saja yang meninggalkan sarang untuk mengumpulkan material bangunan dan pangan untuknya sendiri, budak-budak dan larvanya. Jadi, para majikan di negeri ini jauh kurang mendapat pelayanan ketimbang yang ada di Swiss

Dari mana asal-usul naluri F. sanguinea, saya tidak berpretensi seolah-olah mampu menggambarkannya. Tetapi karena semut yang bukan majikan akan membawa kepompong spesies lain, jika terserak di dekat sarangnya, maka mungkin sekali bahwa kepompong tersebut yang semula sedikit menjadi makin banyak, dan semut acing secara tidak disengaja dibesarkan akan mengikuti naluri mereka sebenarnya, dan melakukan pekerjaan apa yang mampu mereka lakukan.

Jika keberadaan mereka terbukti berguna bagi spesies yang telah menangkapnya – seandainya lebih menguntungkan bagi spesies ini untuk menangkap pekerja daripada memperanakannya – kebiasaan mengumpulkan kepompong yang aslinya untuk makanan, mungkin oleh seleksi alam diperlukan  dan menjadi permanen untuk maksud sangat berbeda ketimbang menciptakan budak. Ketika naluri ini sekali diperoleh, selanjutnya akan dilaksanakan dalam tingkat yang jauh lebih kecil, bahkan daripada F. sanguinea Inggris, yang seperti kita sudah lihat, kurang dibantu oleh para budaknya daripada spesies yang sama di Swiss; maka seleksi alam dapat meningkatkan dan memodifikasi naluri dengan asumsi bahwa setiap modifikasi berguna bagi spesies yang bersangkutan sehingga suatu saat terbentuk berbagai jenis semut yang sangat tergantung pada budaknya seperti Formica rufescens.

Naluri pembuatan sel Lebah Sarang. Saya di sini tidak akan mengupas sampai sekecil-kecilnya topik ini, tetapi hanya memberi garis besar yang telah saya peroleh. Hanya orang bodoh, mengamati sarang yang begitu indah beradaptasi dengan tujuannya, tanpa terkagum-kagum. Kita dengan dari para ahli matematika bahwa lebah dapat secara praktis memecahkan suatu masalah yang sulit dimengerti, dan membuat sel-selnya dalam bentuk yang tepat agar mampu menampung madu secara maksimal dengan sesedikit mungkin penggunaan lilin yang berharga dalam kontruksinya. Seorang tukang ahli dengan peralatan dan ukuran-ukuran yang demikian persis masih sangat sulit membuat sel-sel dari lilin menurut bentuk yang memenuhi syarat. Dan karya ini justru mampu dihasilkan oleh lebah secara rombongan yang bekerja dalam sarang yang gelap. Naluri apapun yang Anda duga mula-mula, tampaknya seperti sangat mustahil: bagaimana mungkin lebah-lebah itu mampu membuat segala sudut dan bidang yang diperlukan, atau bahkan bagaimana mereka tahu apakah benar cara pembuatannya, mengingat itu semua dilakukan di dalam kegelapan? Tetapi kesulitannya tidak begitu besar seperti kesan kita pertama: semua pekerjaan indah ini dapat terselesaikan, saya pikir, karena lebah-lebah mengikuti beberapa naluri sederhana.

Saya tertarik untuk meneliti topik ini setelah Mr. Waterhouse memperlihatkan bahwa bentuk sel berkaitan erat dengan keberadaan sel-sel di sekelilingnya; dan pandangan saya berikut dapatlah dibaca sebagai modifikasi teori dia. Mari kita lihat prinsip besar gradasi, dan melihat apakah Alam tidak mengungkapkan kepada kita metode kerjanya. Pada ujung suatu rangkaian pendek, terdapat lebah sederhana (humble-bee) yang menggunakan bekas kepompong mereka untuk menyimpan madu, kadang mereka menambahkan pula tabung-tabung lilin berukuran pendek, serta juga membuat sel-sel lilin yang bulatnya sangat tidak beraturan. Pada ujung lain rangkaian itu, terdapat sel-sel lebah sarang (hive-bee), yang ditempatkan dalam dua lapisan: setiap sel, seperti diketahui, adalah prisma heksagonal dengan ujung-ujung dari enam sisinya menyerong sehingga membentuk piramida terbalik dari tiga belah ketupat. Belah ketupat ini memiliki sudut-sudut tertentu, dan ketiganya yang membentuk dasar piramida satu sel pada satu sisi sarang, memasuki komposisi dasar dari tiga sel sebelah-menyebelah pada sisi yang berseberangan.

Dalam rangkaian antara kesempurnaan yang sangat tinggi dari sel lebah sarang (hive-bee) dan kesederhanaan dari lebah “humble”, kita temukan sel-­sel dari spesies Melipona domestica Meksiko, yang telah secara teliti digambarkan oleh Pierre Huber. Melipona sendiri adalah pertengahan dalam struktur antara lebah sarang dan lebah “humble”, akan tetapi lebih dekat dengan yang terakhir, ia membentuk sebuah sarang lilin terdiri dari sel-sel silindris yang hampir beraturan di dalamnya anak-anak lebah ditetaskan, ditambah beberapa sel lilin besar untuk menyimpan madu. Sel-sel besar ini hampir berbentuk bola dan ukurannya hampir sama, serta terkumpul menjadi massy yang tidak teratur. Tetapi hal yang penting untuk diperhatikan adalah, bahwa sel-sel ini selalu dibuat pada suatu tingkat kedekatan tertentu satu dengan yang lain, sehingga mereka akan bersinggungan atau terpotong apabila bulatan bola telah selesai. Tetapi hal ini tidak pernah terwujud, karena lebah membuat dinding-dinding yang sempurna rata dari lilin antar bola yang cenderung menyekat. Oleh karena itu, tiap sel terdiri dari bagian bola luar, dan dua, tiga atau lebih permukaan datar, sesuai dengan dua, tiga atau lebih sel lain yang bersinggungan. Bila satu bertumpu atas tiga sel lain, yang karena bola-bola itu hampir berukuran sama, sangat sering dan pasti terjadi, ketiga permukaan rata disatukan menjadi sebuah piramida. Dan piramida ini, seperti dikatakan Huber, adalah perwujudan tiruan kasar dari bentuk dasar piramida tiga sisi sel lebah sarang. Seperti dalam sel lebah sarang, begitu pun di sisi, ketiga permukaan rata dalam setiap sel, pasti masuk ke dalam konsirtiksi ketiga sel yang bersebelahan. Nyasa bahwa Melipona hemat dalam pemakaian lilin dan yang lebih penting lagi, juga hemat tenaga dalam cara pembangunan ini, karena dinding-dinding rata antar sel-sel yang bersebelahan tidak rangkap, tetapi sama tebalnya seperti bagian luar yang berbentuk cembung, namun setiap bagian rata membentuk bidang yang terdiri dari dua sel.

Melihat kasus ini timbul gagasan dalam diri saya bahwa, bila Melipona membuat bola-bolanya berjarak tertentu satu dengan yang lain, dan membuatnya berukuran sama dalam susunan simetris, maka struktur yang dihasilkan seharusnya akan sama sesempurna seperti sarang lebah sarang. Karenanya saya menulis pada Professor Miller dari Cambridge, dan ahli ilmu ukur ini dengan ramah membaca ulang pernyataan berikut yang saya buat berdasarkan informasinya, dan menyatakan kepada saya bahwa spa yang saya katakan itu tepat, yaitu:

Bila sejumlah segi empat yang sama dilukiskan dengan merapatkan pusat-pusatnya pada dua lapisan paralel, dengan pusat setiap bola berjarak, radius X ,  atau radius X 1, 41421 (atau agak di bawahnya), dari pusat-pusat enam bola yang mengelilinginya pada lapisan yang sama, dan pada jarak yang sama dari pusat-pusat bola yang bersebelahan di lapisan lain dan paralel, maka jika bidang-bidang pemotongan antara beberapa bola dalam kedua lapisan dibentuk, akan dihasilkan lapisan prisma rangkap heksagonal yang disatukan oleh dasar-­dasar piramida yang terbentuk dari tiga belah ketupat; dan setiap sisi-sisi prisma heksagonal akan identik sama dengan pengukuran terbaik yang telah dibuat dalam sel lebah sarang. Akan tetapi saya mendengar dari Prof. Wyman, yang telah banyak sekali melakukan penelitian pengukuran, bahwa kecermatan karya lebah terlalu dibesar-besarkan, begitu rupa, sehingga apapun bentuk khas sel, sebenarnya jarang pernah bisa diwujudkan.

Oleh karena itu dengan aman dapat ditarik kesimpulan bahwa, bila kita dapat sedikit memodifikasi naluri yang sudah dimiliki Melipona, yang sendiri tidak sempurna, lebah ini akan membuat suatu struktur yang sama sempurnanya secara menakjubkan, seperti yang dimiliki lebah sarang. Kita harus berasumsi bahwa Melipona memiliki kemampuan membentuk selnya benar-benar bulat berbentuk bola, dan besarnya sama. Dan ini tidak begitu mengherankan, kalau kita melihat bahwa ia sudah melakukannya sampai tingkat tertentu, dan melihat bagaimana sempurnanya lubang-lubang silinder yang dibuat oleh banyak serangga pada kayu, yang tampaknya dibuat dengan berputar mengelilingi suatu titik.Kita harus juga mengasumsikan bahwa Melipona menyusun selnya benar-benar pada lapisan-lapisan rata, seperti yang sudah dilakukannya pada sel-sel silindris. Dan kita harus menduga lebih lanjut, dan ini adalah kesulitan terbesar, bahwa ia bagaimanapun dapat menaksir dengan tepat, pada jarak seberapa jauh dia harus berdiri dari kawan sekerja ketika mereka sedang membuat bola. Ia sebegitu jauh sudah mampu menaksir jarak, sehingga selalu dapat menggambarkan bolanya sedemikian rupa, sehingga berpotongan sampai tingkat tertentu. Kemudian ia menyatukan titik-titik pemotongan itu menjadi permukaan rata yang sempurna. Dengan modifikasi naluri tersebut – yang dalam dirinya sendiri tidak begitu menakjubkan, hampir tidak lebih daripada burung yang membuat sarangnya. saya yakin bahwa lebah sarang telah memperoleh, melalui seleksi alam, kemampuan arsitektur yang tidak dapat ditiru.

Akan tetapi teori ini dapat diuji dengan eksperimen. Mengikuti contoh Mr. Tegetmeier, saya memisahkan dua sarang dan menaruh di antara mereka sebuah lajur lilin yang panjang, tebal dan persegi empat: lebah dari kedua sarang itu langsung mulai menggali lubang-lubang kecil bundar di dalamnya dan sambil memperdalam lubang-lubang kecil ini, mereka membuatnya makin lebar, sehingga menjadi mangkuk dangkal, sampai tampak benar-benar sempurna seperti bagian dari bola dan berdiameter sekitar ukuran sel. Sangat menarik untuk mengamatinya, karena di manapun beberapa lebah mulai menggali mangkuk-mangkuk ini secara berdekatan, mereka mulai pekerjaannya pada suatu jarak tertentu antara satu dengan yang lain, sehingga menjelang waktu mangkuk­mangkuk ini mendapatkan lebar yang disebut di atas (yaitu sekitar lebar sel biasa), dan dalamnya sekitar seperenam diameter sebuah bola yang merupakan bagiannya, pinggiran mangkuk saling memotong atau saling memasuki. Setelah selesai, lebah-lebah itu berhenti menggali dan mulai membangun dinding-dinding rata dari Lilin pada garis pemotong antara mangkuk-mangkuk, sehingga setiap prisma heksagonal dibangun di atas ujung berbentuk lengkungan mangkuk yang halus, dan bukan di atas ujung lurus piramida bersisi tiga seperti dalam kasus sel biasa.

Kemudian saya menempatkan di dalam sarang itu, bukan sepotong lilin tebal, persegi empat, melainkan sebuah hubungan sempit, berpinggiran tajam, berwarna merah tua (vermilion). Lebah-lebah langsung mulai menggali mangkuk-mangkuk kecil yang saling berdekatan satu sama lain, dengan cara persis seperti sebelumnya. Tetapi pinggiran lilin begitu tipis, sehingga dasar mangkuk-mangkuk jika digali sampai kedalaman yang sama dengan eksperimen sebelumnya, akan remuk bila saling memasuki dari sisi-sisi yang berseberangan.

Namun, lebah-lebah tidak membiarkan hal ini terjadi dan mereka berhenti menggali pada waktu yang tepat, sehingga mangkuk-mangkuk, begitu sudah cukup dalam akan mempunyai dasar-dasar yang rata. Dasar rata-rata ini yang dibentuk oleh piringan-piringan kecil lilin vermilion yang tersisa. dan belum digerogoti, bertempat sejauh mata dapat melihatnya, tepat antara mangkuk­mangkuk di sisi pinggiran lilin. Dalam beberapa bagian hanya porsi-porsi kecil, dalam bagian-bagian lain, porsi-porsi besar piringan belah ketupat dengan demikian tertinggal antara mangkuk-mangkuk yang berhadapan. Tetapi pekerjaan itu, dari sudut pandang tertentu, belum rapih benar. Lebah-lebah tentunya harus bekerja pada tingkat kecepatan yang hampir sama dalam menggerogoti dan memperdalam mangkuk-mangkuk pada kedua sisi pinggiran lilin vermilion, agar dengan demikian berhasil meninggalkan lempengan-­lempengan datar antara mangkuk-mangkuk, dengan menghentikan pekerjaan di bidang-bidang yang saling memotong.

Mengingat betapa lenturnya lilin ini, saya tidak melihat bahwa ada kesulitan pada lebah, ketika mengerjakan kedua sisi lajur lilin, karena mengerti bahwa mereka telah menggerogoti lilin hingga ketipisan yang tepat, dan kemudian menghentikan pekerjaannya. Di sarang biasa, tampak pada saya bahwa lebah tidak selalu berhasil dalam bekerja pada tingkat kecepatan yang tepat sama dari sisi-sisi yang berseberangan. Sebab saya telah melihat belah ketupat setengah selesai pada dasar sel yang baru dimulai, yang agak cekung pada satu sisi, yang saya duga digali terlalu cepat, oleh lebah dan cembung pada sisi yang berseberangan di mana lebah bekerja kurang cepat. Dalam suatu eksperimen, saya kembalikan sel yang belum jadi ke dalam sarang, dan membiarkan lebah-­lebah bekerja terus untuk sementara waktu, lalu saya kembali memeriksa sel. Di situ saya mendapati bahwa lempengan belah ketupat telah diselesaikan dan menjadi rata sempurna. Adalah sama sekali tidak mungkin, melihat ketipisan luar biasa lempengan kecil, bahwa mereka dapat menghasilkan ini dengan menggerogoti sisi yang cembung. Saya menduga lebah-lebah itu dalam kasus tersebut berdiri di sisi yang berseberangan lalu mendorong dan membengkok lilin yang lentur dan pangs (seperti pernah saya cobs sendiri, adalah mudah dilakukan) menjadi bidang antara yang tepat, dan dengan demikian menjadikannya rata.

Dari eksperimen pinggiran lilin vermilion ini, kita dapat melihat bahwa bila lebah harus membangun untuk dirinya dinding lilin tipis, mereka dapat membuat sel-sel dengan bentuk yang tepat, dengan berdiri pada jarak yang benar satu dari yang lain, dan dengan menggali pada waktu yang sama, juga dengan mencoba membuat lengkungan seperti bola yang sama tetapi tidak pernah membiarkan bunderan-bunderan itu saling membentur. Kini, lebah-lebah itu, seperti dapat dilihat jelas dengan memeriksa ujung sarang yang sedang dibuat, memang membuat dinding keliling atau pinggiran sekitar sarang seluruhnya dan mereka menggerogotinya dari sisi-sisi berseberangan, selalu bekerja memutar seraya memperdalam setiap sel. Mereka tidak membuat dasar piramida bersisi tiga seluruhnya untuk setiap sel pada waktu yang sama, akan tetapi hanya satu lempengan belah ketupat yang ada pada margin yang tumbuh ekstrim, atau kedua lempengan menurut keadaan. Dan mereka tidak pernah menyelesaikan ujung-ujung atas lempengan belah ketupat, sampai dinding-dinding heksagonal dimulai. Beberapa dari pernyataan ini berbeda dari yang dibuat Huber yang terkenal itu. Akan tetapi saya yakin akan ketelitian lebah-lebah itu, dan apabila saya mempunyai ruing cukup, saya akan memperlihatkan bahwa cara kerja mereka sesuai dengan teori saya.

Pernyataan Huber bahwa sel pertama telah digali dari sisi dinding lilin bersisi paralel kecil, sejauh saya telah melihatnya, tidak tepat benar, karena permulaan pertama selalu dibuat dengan sedikit lilin. akan tetapi saya di sisi tidak akan memasuki rincian. Kita lihat bagaimana penting penggalian itu dalam mengkonstruksi sel, tetapi akan sangat keliru untuk menduga bahwa lebah tidak dapat membuat dinding kasar dari lilin dalam posisi yang benar, yakni sepanjang bidang potongan antara dua bola yang persis bersebelahan. Saya mendapati beberapa contoh yang dengan jelas menunjukkan, mereka dapat mengerjakan ini. Bahkan dalam bingkai atau dinding keliling yang kasar dari lilin yang mengitari sarang yang sedang dibuat, kadang-kadang dapat dilihat lengkungan-lengkungan, sesuai dengan posisi terhadap bidang-bidang lempengan dasar utama belah ketupat dari sel-sel yang akan menyusul dibangun. Akan tetapi dinding lilin yang kasar ini bagaimanapun juga harus diselesaikan, dengan, terutama terus digerogoti pada kedua sisi. Cara lebah membangun sarangnya ini memang aneh. Mereka selalu membuat dinding kasar pertama sepuluh hingga dua puluh kali lebih tebal daripada dinding sel luar biasa tipis yang telah diselesaikan, yang akhirnya akan ditinggalkan.

Kita akan memahami bagaimana cara mereka bekerja, dengan membayangkan para tukang membuat tembok-tembok terlebih dahulu untuk menimbun bukit semen lebar, kemudian mulai memotongnya sama pada kedua sisi dekat tanah hingga tinggal sebuah dinding halus sangat tipis di tengah-tengah. Para tukang batu itu selalu menimbun tempat semen yang dipotong, dan menambahkan semen pada puncak punggung. Jadi kita memiliki dinding yang tipis terus tumbuh ke atas akan tetapi dimahkotai dengan penutup yang besar. Dari semua sel, baik sel yang baru dimulai maupun sel yang sudah selesai, dengan cara ini dimahkotai dengan kubah lilin yang besar dan kuat. Lebah-lebah lalu dapat berkelompok dan merangkak di atas sarang tanpa merusak dinding   heksagonal yang halus. Dinding-dinding ini, sebagaimana dikatakan Profesor Muller pada saya, bervariasi dalam ketebalan, pada rata-rata dua betas pengukuran yang dibuat dekat batas sarang, setebal 1/352 inci. Sementara lempengan-lempengan dasar belah ketupat lebih tebal, dengan proporsi dua atau tiga kalinya. Rata-rata ketebalan yang terakhir ini, dari dua puluh kali pengukuran, adalah 1/229 inci. Dengan cara pembangunan ajaib di atas, kekuatan terus diberikan kepada sarang, dengan penggunaan lilin secara amat ekonomis.

Tampak pada permulaan, kita kesulitan untuk memahami bagaimana sel-sel dibuat, bahwa banyak sekali lebah bekerja bersama, seekor lebah setelah bekerja dalam waktu singkat pada satu sel, pindah ke sel lain, sampai-sampai Huber dapat menyatakan sejumlah skor individu yang bekerja, bahkan pada permulaan pembuatan sel pertama. Secara praktis saya dapat memperlihatkan fakta ini, dengan menutupi ujung-ujung dinding heksagonal satu sel tunggal, atau margin ekstrim pinggiran keliling sarang yang sedang tumbuh, dengan lapisan sangat tipis cairan lilin merah tua (vermilion). Dan saya menemukan bahwa warna tersebut secara amat lulus ditebarkan lebah sehalus pelukis dapat melakukan dengan kuasnya, dengan atom-atom lilin berwarna setelah diambil dari tempat lain dan diletakkan dengan cara meratakannya dalam ujung-ujung yang tumbuh dari sel-sel di sekelilingnya. Pekerjaan konstruksi semacam ini agaknya merupakan semacam keseimbangan tersendiri yang dibuat antara banyak lebah, yang semua berdiri secara naluriah pada jarak relatif sama satu sama lain, semua mencoba membuat bulatan-bulatan sama, dan kemudian membangunnya, atau membiarkan lempengan-lempengan pembatasnya digerogoti. Sungguh mengherankan, bahwa bila terjadi kesulitan, seperti bila dua bush sarang bertemu pada suatu sudut, betapa sering lebah merobohkannya dan membangun kembali dengan cara lain sel yang sama, kadang-kadang kembali pada bentuk yang pada mulanya mereka tolak.

Bila lebah telah menemukan suatu tempat dan posisi yang pas untuk mulai bekerja – misalnya, di atas kayu kecil, yang ditempatkan langsung di tengah-tengah sarang yang tumbuh ke bawah, sehingga sarang harus dibangun di atas satu permukaan kayu – dalam hal ini lebah dapat meletakkan fondasi satu dinding heksagonal baru, pada tempat yang cocok, menonjol di atas sel lain yang telah selesai. Adalah penting bahwa lebah-lebah dapat berdiri pada jarak yang pas secara relatif sama satu dengan yang lain, dari dinding sel terakhir yang diselesaikan. Kemudian, dengan menempatkan bola-bola bayangan, mereka dapat membangun dinding penengah antara dua bola berdekatan. Tetapi sejauh saya dapat melihat, mereka tidak pernah menggerogoti dan menyelesaikan sudut-­sudut suatu sel sampai sebagian besar sel itu dan sel yang berdekatan telah dibangun. Kemampuan lebah ini, untuk membuat dinding kasar dalam keadaan tertentu pada tempat yang tepat antara dua sel yang baru dimulai adalah penting, karena mengemukakan fakta yang pada awalnya tampak menjatuhkan teori sebelumnya, yaitu bahwa sel pada margin ekstrim sarang tawon penyengat kadang-kadang persis heksagonal. Tetapi saya tidak punya ruang di sini untuk memasuki soal ini. Juga tidak tampak bagi saya kesulitan apapun pada serangga tertentu (seperti dalam kasus ratu tawon penyengat) untuk membuat sel heksagonal, seandainya harus bekerja bergantian pada sebelah dalam dan luar antara dua atau tiga sel yang dimulai pada waktu yang sama, dengan selalu berdiri pada jarak yang relatif tepat dari bagian-bagian sel yang baru mulai ditentukan: membuat bola atau silinder dan membangun bidang-bidang perantara.

Karena seleksi slam hanya bertindak dengan akumulasi modifikasi kecil-kecil struktur tubuh atau naluri, yang masing-masing menguntungkan bagi individu dalam kondisi hidupnya, secara wajar dapat dipertanyakan, bagaimana suksesi panjang dan bergradasi dari naluri arsitektural yang dimodifikasi, semua kecenderungan yang mengarah ke rencana konstruksi yang, telah dilakukan masa kini, dapat menguntungkan nenek moyang lebah sarang? Saya kira jawabannya tidak sulit: sel yang dikonstruksi seperti sel lebah atau tawon penyengat memperoleh keuntungan dan kekuatan dari menghemat banyak tenaga kerja dan ruang serta material untuk konstruksi. Tentang pembentukan lilin, diketahui bahwa lebah sering dipaksa bekerja keras untuk-mendapatkan air madu yang cukup, dan saya diberi tahu Mr. Tegetmeier, bahwa secara eksperimental telah dibuktikan bahwa dua belas hingga lima belas pon gula kering harus dikonsumsi oleh kawanan lebah untuk sekresi satu pon lilin guna konstruksi sarangnya. Lagi pula, banyak lebah harus menganggur beberapa hari selama proses sekresi berlangsung. Suatu kwantitas luar biasa cairan air madu harus dikumpulkan dan dikonsumsi oleh lebah selama musim dingin; dan keamanan sarang mereka diketahui terutama tergantung pada sejumlah besar lebah yang dibantu. Oleh karena itu penghematan lilin dengan sebagian besar menghemat madu dan waktu yang dipakai dalam mengumpulkan madu merupakan unsur keberhasilan bagi setiap keluarga lebah. Sudan barang tentu keberhasilan species ini tergantung pada jumlah musuh atau parasitnya, atau penyebab yang khusus dan dengan demikian sama sekali tidak tergantung pada jumlah madu yang dikumpulkan lebah.

Akan tetapi mari kita anggap bahwa keadaan yang terakhir ini menemukan, seperti barangkali sering terjadi, apakah lebah yang bersekutu dengan lebah “humble” kita dapat bertahan dalam jumlah besar di setiap negeri; dan mari kita andaikan lebih jauh pula bahwa komunitasnya hidup menembus musim dingin dan dengan demikian memerlukan persediaan madu: dalam kasus ini madu tidak pelak lagi akan menguntungkan bagi lebah “humble” imajiner kita, jika suatu modifikasi kecil dalam naluri membawanya untuk membuat sel-sel lilinnya saling berdekatan, sehingga sedikit saling memotong karena satu dinding bersama terhadap dua sel yang bersebelahan akan menghemat sedikit tenaga kerja dan lilin. Oleh karena itu akan menguntungkan bagi lebah ini, jika mereka membuat sel mereka makin teratur, makin berdekatan dan berkumpul bersama dalam suatu massa, seperti sel-sel Melipona. Karena dalam kasus ini, bagian besar dari permukaan-permukaan setiap sel akan berfungsi membatasi sel yang berdekatan, dan banyak tenaga kerja dan lilin akan dihemat. Tambahan pula, karena sebab yang sama, akan menguntungkan bagi Melipona bila ia membuat selnya lebih berdekatan dan lebih teratur daripada yang sekarang, karena kemudian, seperti telah kita lihat, permukaan berbentuk bola akan hilang seluruhnya dan diganti dengan permukaan-permukaan rata; dan Melipona akan membuat sarang yang sesempurna rumah lebah sarang. Di atas tahap kesempurnaan ini dalam arsitektur, seleksi alam tidak dapat berperan, karena rumah lebah sarang, sejauh kita dapat melihat, adalah mutlak sempurna dalam menghemat tenaga kerja dan lilin.

Jadi, sebagaimana saya yakini, yang paling ajaib dari semua naluri yang diketahui yaitu naluri lebah sarang, dapat dijelaskan dengan seleksi alam yang telah mengambil keuntungan dari banyak sekali modifikasi-modifikasi kecil naluri yang lebih sederhana, karena seleksi alam lambat-laun makin sempurna menggiring lebah membuat bola-bola yang sama pada jarak tertentu satu sama lain dalam suatu lapisan rangkap dan membangun serta menggali lilin sepanjang bidang pemotongan. Sudah barang tentu, lebah-lebah ini tidak tahu bahwa mereka membuat bola-bolanya pada jarak satu sama lain secara tertentu; juga tidak tahu tentang beberapa sudut prisma heksagonal dan lempengan-lempengan belah ketupat itu. Daya penggerak proses seleksi alam adalah konstruksi sel dengan kekuatan cukup dan ukuran dan bentuk yang pas untuk larva-larva mereka. Hal ini dihasilkan dengan penghematan tenaga kerja dan lilin sebesar mungkin. Sehingga kelompok lebah-lebah itu mampu membuat sel terbaik dengan sedikit tenaga kerja dan buangan madu paling sedikit dalam sekresi lilin, dan kemudian meneruskan naluri ekonomis yang baru diperolehnya itu pada kelompok-kelompok baru, yang pada gilirannya kemudian memiliki kesempatan terbaik untuk bertahan dalam, perjuangan hidup.

Keberatan atas Teori Seleksi Alam sebagaimana Diterapkan pada Naluri: Serangga Netral dan Steril

Di depan telah diajukan keberatan mengenai asal naluri bahwa “variasi struktur dan naluri seharusnya serentak dan secara tepat disesuaikan satu dengan yang lain, sebab modifikasi pada yang satu, tanpa perubahan yang langsung berkaitan pada yang lain akan berakibat fatal”. Kekuatan keberatan ini bertumpu seluruhnya pada asumsi bahwa perubahan-perubahan dalam naluri dan struktur terjadi sekonyong-konyong. Sebagai ilustrasi, kasus titmouse (Pares major) yang telah disinggung sepintas dalam bib terdahulu. Burung ini sering membawa biji-biji potion yew di sela-sela kakinya ke atas ranting, dan mematuk-matuki dengan paruhnya sampai mendapatkan inti bijinya. Sekarang, kesulitan khusus apa yang akan dijumpai seleksi alam untuk melestarikan semua variasi kecil individual pada paruh, yang makin lama makin disesuaikan untuk membelah biji-biji, hingga terbentuk suatu paruh, yang dikonstruksi untuk maksud ini seperti paruh Nuthatch (burung pemakan biji) dan pada waktu bersaingan, kebiasaan atau dorongan dan selera spontan menggiring burung itu makin menjadi pemakan biji-bijian? Dalam kasus ini paruh diduga termodifikasi perlahan-lahan oleh seleksi alam sejalan dengan perubahan kebiasaan sekitarnya, akan tetapi membiarkan kaki titmouse itu berubah dan tumbuh lebih besar dalam korelasi dengan paruh, atau karena sebab lain yang tidak diketahui, bukan tidak mungkin bahwa kaki yang lebih besar itu akan membawa burung makin lama makin terlatih untuk memanjat, sehingga ia memperoleh naluri memanjat yang luar biasa dan kekuatan memakan biji-bijian. Dalam kasus ini, suatu perubahan struktur yang gradual diduga mengarah pada kebiasaan naluriah yang berubah.

Ambillah contoh satu lagi: beberapa naluri yang menakjubkan mendorong burung Swift (sejenis burung layang-layang) dari Kepulauan Timer yang membuat seluruh sarangnya dari ludah yang dikentalkan. Beberapa burung membuat sarangnya dari lumpur, yang diduga dibasahi oleh ludahnya. Dan salah satu burung layang-layang dari Amerika Utara membuat sarangnya (seperti yang saya lihat) dari ranting-ranting yang dilekatkan dengan Judah dan dengan serpih-serpih zat ini. Mika, sangat tidak mungkinkah bahwa seleksi alam terhadap individu burung layang-layang, yang mengeluarkan makin lama makin banyak ludah, pada akhirnya akan menghasilkan spesies dengan naluri yang mengarahkannya untuk mengabaikan material lain, dan membuat sarangnya hanya dari ludah yang dikentalkan? Demikian juga dengan kasus-kasus lain. Namun harus diakui bahwa dalam banyak contoh kita tidak dapat menerka apakah naluri atau struktur yang mula-mula berubah.

Tak diragukan banyak naluri yang sulit sekali dijelaskan bila dihadapkan pada teori seleksi alam. Kasus-kasus tidak selalu dapat memperlihatkan kepada kita, bagaimana suatu naluri berawal; kasus-kasus dimana gradasi-gradasi perantaranya tidak diketahui; kasus-kasus naluri yang begitu tidak berarti, sehingga hampir tidak berdampak pada seleksi alam; kasus-kasus naluri yang hampir identik pada hewan yang begitu berjauhan dalam skala alam sehingga tak dapat dijelaskan persamaannya itu sebagai warisan dari nenek moyang yang sama, dan karenanya kita harus percaya bahwa mereka diperoleh secara independen melalui seleksi alam. Saya di sini tidak akan memasuki beberapa kasus ini, akan tetapi akan membatasi diri pada satu kesulitan khusus, yang mulanya tampak bagi saya tak mungkin dapat diatasi dan benar-benar fatal bagi keseluruhan teori saya. Saya telah menyinggung sepintas di depan tentang serangga netral atau betina steril dalam komunitas serangga, sebab serangga steril ini sering sangat berbeda dalam naluri dan struktur baik dengan jantan maupun betina yang subur, namun karena steril, mereka tidak dapat mengembangbiakkan jenisnya.

Topik ini sangat pantas untuk dibicarakan panjang lebar, tetapi di sini saya hanya akan mengambil satu kasus, yakni tentang semut pekerja atau semut steril. Bagaimana mereka telah menjadi steril sulit dijelaskan tetapi tidak lebih sulit daripada penjelasan modifikasi struktur yang mencolok lainnya. Karena itu dapat diperlihatkan bahwa beberapa serangga dan hewan bersendi lainnya dalam alam kadang-kadang menjadi steril. Dan bila serangga tersebut berwatak sosial serta menguntungkan bagi komunitas sehingga mereka setiap tahun dilahirkan dalam jumlah tertentu untuk bekerja tetapi tidak dapat memproduksi keturunan, saya dapat melihat, tidak ada kesulitan khusus dalam hal ini karena telah ada pengaruh seleksi alam. Tetapi saya harus mengatakan kesulitan pendahuluan ini. Kesulitan besar terletak pada semut pekerja, yang berbeda jauh antara jantan dan betina suburnya, baik dalam struktur, maupun dalam bentuk rongga dada (thorax) dan tidak adanya sayap dan kadang-kadang mata. Sepanjang berkaitan dengan naluri sendiri, perbedaan paling mencolok dalam hal ini antara pekerja dan betina sempurna, akan lebih baik dicontohkan oleh lebah sarang (hive-bee). Jika semut pekerja atau serangga netral lain menjadi hewan biasa, saya tidak akan ragu mengatakan bahwa semua sifatnya telah secara perlahan-lahan diperoleh melalui seleksi alam, yakni oleh individu-individu yang dilahirkan dengan sedikit modifikasi menguntungkan, yang kemudian diwarisi oleh keturunannya. Dan keturunannya ini lagi-lagi berubah dan lagi-lagi diseleksi, begitu seterusnya. Akan tetapi pada semut pekerja kita menghadapi jenis serangga yang jauh berbeda dari induknya, namun mutlak steril sehingga ia tidak pernah dapat meneruskan terjadinya modifikasi struktur atau naluri kepada keturunannya. Sehingga dapat dipertanyakan, bagaimana mungkin mendamaikan ini dengan teori seleksi alam?

Pertama, perlu diingat bahwa kita memiliki banyak sekali contoh baik dalam produk piaraan kita dan produk alam, tentang segala macam perbedaan struktur warisan yang berkorelasi dengan usia tertentu, dan dengan kedua jenis kelamin. Kita melihat perbedaan yang berkorelasi tidak saja dengan satu jenis kelamin, akan tetapi dengan periode singkat ketika sistem reproduksi sedang aktif seperti keadaan bulu burung di musim kawin, dan dalam tumbuhnya rahang pengait pada ikan salem jantan. Kita bahkan melihat perbedaan-perbedaan kecil pada tanduk berbagai keturunan ternak sapi berkaitan dengan keadaan kelamin jantan yang tidak sempurna secara buatan, karena sapi jantan turunan tertentu memiliki tanduk yang lebih panjang daripada sapi jantan turunan lain, yang relatif terhadap panjang tanduk sapi jantan maupun sapi betina dari turunan yang sama. Oleh karena itu saya tidak melihat kesulitan besar dalam ciri apapun yang berkorelasi dengan kondisi steril anggota-anggota tertentu dari komunitas serangga. Kesulitan terletak pada pemahaman bagaimana modifikasi struktur yang berkolerasi tersebut dapat perlahan-lahan berakumulasi lantaran seleksi alam.

Kesulitan ini, meskipun tampaknya tidak dapat diatasi, dapat dikurangi atau seperti saya yakin, hilang bila kita ingat bahwa seleksi dapat diterapkan pada famili, juga pada individu, dan dengan demikian dapat memperoleh hasil yang diinginkan. Para peternak sapi menginginkan daging dan lemak menyatu dengan baik; hewan berciri demikian lalu disembelih, akan tetapi peternaknya bisa meneruskan stok yang sama dan berhasil. Keyakinan tersebut dapat diberikan dalam daya seleksi, bahwa turunan sapi selalu menghasilkan sapi jantan dengan tanduk amat panjang. Ini bisa dibentuk secara hati-hati, dengan mengamati individu sapi jantan dan sapi betina yang bila kawin, menghasilkan sapi jantan dengan tanduk terpanjang, meskipun mungkin sapi jantan bertanduk panjang itu tidak bisa menghasilkan keturunan yang sama untuk jenisnya.

Berikut ini ada suatu ilustrasi yang lebih baik dan lebih nyata: menurut M. Verlot, beberapa varietas stok tanaman rangkap, setelah diseleksi dengan cermat dan bertahun-tahun, selalu menghasilkan proporsi besar bibit yang berbunga rangkap dan steril dengan modifikasi yang sama. Tetapi varietas-varietas ini juga menghasilkan beberapa tanaman tunggal dan subur. Dari yang subur inilah varietas itu dapat menghasilkan keturunan, dan bisa disejajarkan dengan semut-semut jantan dan betina yang subur, sementara tanaman ganda yang steril dapat disejajarkan dengan serangga netral dalam komunitas semut itu. Seperti halnya dengan varietas tanaman di atas, begitu pula dengan serangga yang memiliki peran sosial, proses seleksi berlaku pada famili dan spesies, bukan pada individu demi memperoleh hasil yang diharapkan. Oleh karena itu, kita boleh menyimpulkan bahwa modifikasi-modifikasi kecil struktur atau naluri yang berorelasi dengan kondisi steril anggota-anggota tertentu dari komunitas itu, terbukti telah menunjukkan keuntungan: akibatnya, spesies jantan dan betina yang subur berkembang dan mewariskan pada keturunan mereka yang subur kecenderungan untuk menghasilkan anggota-anggota yang steril dengan modifikasi-modifikasi yang sama. Proses ini harus diulang banyak kali, hingga jumlah perbedaan besar antara betina subur din betina steril dari spesies yang sama itu telah dihasilkan, seperti yang kita lihat pada banyak serangga yang memiliki peran sosial.

Akan tetapi kita belum menyinggung puncak kesulitan, yaitu fakta bahwa serangga netral beberapa semut, berbeda tidak saja dari betina dan jantan yang subur, tetapi juga antara yang satu dengan yang lain; kadang malah sampai suatu derajad yang hampir tidak dapat dipercaya, dan dengan demikian dibagi dalam dua atau bahkan tiga kasta. Lebih jauh lagi, kasta-kasta ini tidak saling memasuki, tetapi memiliki sifat khususnya sendiri seperti pada spesies dari ge­nus yang sama, atau bahkan sebagai dua genera dari famili yang sama. Jadi pada Eciton, terdapat pekerja dan tentara netral, dengan rahang dan naluri yang sangat berbeda. Pada Cryptocerus, pekerja dari satu kasta saja membawa sejenis perisai yang indah di atas kepala mereka yang penggunaannya belum diketahui. Pada Myroinecocystus Meksiko, pekerja suatu kasta tidak pernah meninggalkan sarang; mereka diberi makan oleh pekerja kasta lain, dan mereka memiliki perut sangat besar yang mengeluarkan semacam madu, memasok kotoran yang dikeluarkan oleh kutu daun, atau sapi perahan, begitu mereka disebut, yang dijaga dan dikurung oleh semut-semut Eropa kita.

Memang orang akan menyangka bahwa saya memiliki keyakinan berlebihan akan prinsip seleksi alam jika saya tidak mengakui bahwa fakta yang ajaib dan  sudah mantap tersebut bersama-sama memusnahkan teori itu. Dalam kasus yang lebih sederhana tentang serangga netral yang semuanya dari satu kasus yang seperti saya yakin, telah dianggap berbeda dengan jantan dan betina yang subur melalui seleksi alam, maka kita dapat menyimpulkan dari analogi variasi-variasi biasa, bahwa modifikasi terus-menerus, kecil-kecil dan menguntungkan tidak pertama-tama timbal pada semua serangga netral di sarang yang sama akan tetapi pada beberapa saja. Dan bahwa dari segi kelangsungan hidup komunitas, jenis betina yang menghasilkan serangga netral yang paling banyak memiliki modifikasi yang menguntungkan, maka pada akhirnya semua serangga netral memiliki ciri sendiri.

Menurut pandangan ini, kita terkadang dapat menemukan serangga netral di sarang yang sama, yang menampilkan gradasi-gradasi struktur, yang akan kita temukan memang berciri demikian. Dan kita kadang-kadang menemukan bahkan tidak jarang, betapa sedikit serangga netral dari Eropa telah diperiksa dengan teliti. Mr. F. Smith telah memperlihatkan bahwa serangga netral beberapa semut Inggris sangat berbeda satu sterna lain dalam ukuran dan kadang-kadang dalam warna, dan bahwa bentuk ekstrim dapat dikaitkan bersama dengan individu-individu yang diambil dari sarang yang sama. Saya sendiri telah membandingkan gradasi-gradasi sempurna jenis ini. Kadang-kadang terjadi bahwa pekerja berukuran lebih besar atau lebih kecil paling banyak, sedangkan yang ukuran menengah berjumlah sangat sedikit. Formica flava memiliki pekerja agak besar dan agak kecil, dengan beberapa berukuran menengah dan dalam spesies ini, sebagaimana diamati Mr. F. Smith, pekerja agak besar memiliki mata sederhana (ocelli) yang meskipun kecil dapat mudah dibedakan, sedangkan pekerja agak kecil memiliki ocelli yang tak berkembang (rudimenter). Setelah dengan hati-hati membedah beberapa spesimen pekerja ini, saya dapat memastikan bahwa mata pekerja lebih kecil jauh lebih rudimenter daripada yang dapat diterangkan, hanya karena ukurannya secara proporsional lebih kecil. Dan saya yakin sepenuhnya, meskipun saya tidak berani menyatakannya secara positip, bahwa pekerja ukuran menengah memiliki ocelli persis dalam kondisimenengah. Sehingga di sini kita memiliki dua tubuh pekerja steril di sarang yang sama, yang berbeda tidak saja dalam ukuran, akan tetapi dalam organ penglihatan mereka, namun berkaitan dalam beberapa anggotanya, dalam kondisi menengah saya dapat menyimpang dari pokok diskusi dengan menambahkan, bahwa bila bekerja yang lebih kecil adalah yang paling berguna bagi komunitas, dan yang jantan dan yang betina terus diseleksi, siapa penghasil makin banyak pekerja lebih kecil, hingga semua pekerja dalam kondisi ini, maka kita akan memiliki spesies semut dengan kelompok semut netralnya dalam. kondisi hampir sama dengan kondisi Myrmica. Karena pekerja Myrmica tidak memiliki bahkan ocelli yang rudimenter, meskipun semut jantan dan betina kelompok ini memiliki ocelli yang berkembang dengan baik.

Saya perlu memberi satu kasus lain: begitu yakinnya saya untuk dapat menemukan gradasi struktur-struktur penting antara beberapa kasta netral yang berbeda pada spesies yang sama, sehingga saya senang menerima kebaikan, Mr.  F. Smith berupa kiriman banyak spesimen semut (Anomma) Afrika Barat lari sarang yang sama. Pembaca barangkali akan mengapresiasi jumlah perbedaan para pekerja ini, karena pemberian saya bukan pengukuran nyata, akan tetapi gambaran teliti yang tepat. Perbedaannya adalah sama seperti bila; kita melihat sejumlah pekerja membangun rumah, yang kebanyakan rumah itu setinggi lima kaki empat inci, dan sebagian lagi setinggi enam belas kaki. Akan tetapi kita harus menambahkan bahwa pekerja yang lebih besar memiliki kepala bukannya tiga kali tetapi sebesar empat kali besar yang dimiliki jantan yang lebih kecil, dan rahang-rahangnya hampir lima kali lipat besarnya. Tambahan pula, rahang semut-semut pekerja tersebut sangat aneh perbedaan bentuknya dan jumlah giginya. Tetapi fakta paling penting bagi kita adalah bahwa, meskipun para pekerja dapat dikelompokkan dalam kasta-kasta yang berbeda ukuran, namun mereka saling bergradasi satu sama lain tanpa radar, sebagaimana struktur rahang mereka yang sangat berbeda. Saya berbicara mengenai hal terakhir ini dengan percaya diri, karena Sir J. Lubbock telah membuat gambar-gambar dengan kamera lucida buat  saya tulang rahang-rahang tersebut, yang saya bedah dari semut-semut pekerja yang ukurannya bermacam-macam itu. Mr. Bates Islam tulisannya “Naturalist on The Amazons” (Para naturalis tentang Amazon) telah menggambarkan kasus-kasus serupa.

Menghadapi fakta-fakta ini, saya percaya bahwa seleksi alam, dengan bertindak pada semut-semut atau pasangan semut-semut subur, dapat membentuk spesies yang secara berkala akan memproduksi semut netral, semuanya berukuran besar dengan satu bentuk rahang, atau semuanya berukuran kecil dengan bentuk-bentuk rahang yang bermacam-macam. Atau terakhir, dan ini yang paling sulit , satu serangkaian pekerja berukuran dan berstruktur sama, dan serempak dengan itu serangkaian pekerja berukuran dan berstruktur berbeda-beda. Karena pertama harus dibentuk seri yang bergradasi, sebagaimana kasus semut pemerbudak (driver ant) lalu bentuk-bentuk ekstrim yang telah diproduksi datum jumlah yang makin larva makin besar, melalui ketahanan hidup pasangan yang menurunkannya, sampai tidak ada lagi yang diproduksi dengan struktur pertengahan.

Suatu penjelasan yang analogis telah diberikan oleh Mr. Wallace, mengenai kasus yang sana rumitnya, yaitu tentang kupu-kupu Melayu yang secara berkala muncul dalam dua atau tiga bentuk betina yang berbeda-beda; juga penjelasan Fritz Muller tentang crustacea-crustacea Brazil tertentu yang muncul pula dalam dua bentuk jantan yang sangat berlainan satu sama lain. Tetapi topik ini tidak perlu didiskusikan di sini.

Hingga sekarang, telah saya jelaskan bagaimana, seperti saya yakin, fakta aneh tentang dua kasta pekerja steril yang sangat jauh berbeda, hidup bersama dalam sarang yang sama. Keduanya sangat berlainan, juga dari induk yang melahirkannya. Kita dapat melihat betapa berguna produksi mereka bagi komunitas social semut, berdasarkan prinsip yang juga sama bahwa pembagian kerja berguna bagi manusia beradab. Namun semut bekerja dengan naluri-naluri  Yang diwarisi dan oleh organ-organ atau alat yang diwarisi, sementara manusia bekerja berdasarkan ilmu yang diperolehnya dan alat-alat piranti hasil ciptaannya. Tetapi saya harus mengakui bahwa keyakinan saya yang begitu besar atas seleksi alam, tidak selalu berarti bahwa prinsip ini dapat begitu efisien berlaku pada tingkat setinggi itu, karena kasus serangga-serangga netral itu tidak membawa saya kepada kesimpulan ini.

Karena itu, saya telah mendiskusikan kasus ini sampai agak panjang, tetapi sama sekali belum cukup untuk memperlihatkan daya kemampuan seleksi alam, dan juga karena hal ini merupakan kesulitan paling serius yang dihadapi teori saya. Kasus ini pun sangat menarik, sebagaimana terbukti pada hewan dan pada tanaman, bahwa sejumlah modifikasi dapat dihasilkan oleh akumulasi banyak variasi kecil-kecil dan spontan, yang dengan berbagai cara menguntungkan, tanpa memperhitungkan latihan atau kebiasaan. Untuk kebiasaan-kebiasaan khusus yang terbatas pada pekerja atau betina steril, betapa lama mereka dapat diikuti, kemungkinan tidak dapat mempengaruhi jantan dan betina subur, yang sendiri meninggalkan keturunan. Saya heran bahwa sampai sekarang tidak ada seorang pun yang mengembangkan kasus serangga netral yang mencolok ini, terhadap doktrin kebiasaan pewarisan yang sudah diketahui benar, sebagaimana diajukan Lamarck.

 

Ikhtisar

Saya telah mencoba dengan singkat dalam bab ini memperlihatkan bahwa kualitas mental hewan domestik kita bervariasi, dan bahwa variasi-variasi itu diwarisi. Lebih singkat lagi, saya telah mencoba memperlihatkan bahwa naluri-naluri tipis saja variasinya di dalam alam. Tidak seorang pun akan mendebat bahwa naluri itu memang paling penting bagi setiap hewan. Oleh karena itu tidak ada kesulitan, di bawah perubahan kondisi kehidupan, dalam seleksi alam, untuk mengakumulasi sampai seluas apapun, modifikasi-modifikasi kecil naluri yang dirasa bermanfaat. Dalam banyak kasus, kebiasaan atau penggunaan atau tidak digunakannya suatu organ mungkin ikut bermain. Saya tidak berpretensi bahwa fakta-fakta yang diberikan dalam bab ini memperkuat dalam bobot yang besar, teori saya. Akan tetapi tidak ada kasus kesulitan, sepanjang pertimbangan terbaik saya, yang sanggup menghapuskannya. Sebaliknya, fakta bahwa naluri tidak selalu mutlak sempurna dan dapat saja keliru, — bahwa tidak ada naluri yang dapat ditunjuk sebagai dihasilkan untuk kebaikan hewan lain, meskipun hewan itu dapat saja menarik keuntungan dari naluri hewan lain, — bahwa hukum dalam sejarah alam: “Natura non facit saltum” dapat diterapkan terhadap naluri, seperti juga terhadap struktur tubuh, dan jelas dapat diterangkan menurut pandangan terdahulu, tetapi tidak dapat diterangkan secara lain, — kesemuanya itu cenderung membenarkan teori seleksi alami.

Teori ini juga diperkuat oleh beberapa fakta lain tentang naluri yang berkaitan, tetapi dari species berlainan, yang mendiami bagian-bagian dunia yang berjauhan. hidup dalam kondisi kehidupan yang berbeda, namun memiliki naluri yang hampir sama. Misalnya, kita dapat mengerti, berdasarkan prinsip pewarisan, bagaimana Thrush (nama burung) Amerika Selatan yang tropic melapisi sarangnya dengan lumpur, cara yang seaneh seperti burung Thrush kita. Bagaimana sampai burung Hornbills dari Afrika dan India memiliki naluri aneh yang sama, yaitu melapisi sarangnya dan mengurung betina di dalam lubang sebuah pohon, dan melalui lubang kecil si jantan memberi makan betina dan anaknya setelah menetas. Bagaimana burung Wrens (Troglodytes) jantan Amerika Utara membangun “sarang jago” untuk tempat tidur, seperti jantan Kitty Wrens kita, – suatu kebiasaan yang sama sekali berbeda dengan kebiasaan burung-burung lain yang dikenal. Akhirnya, akan merupakan deduksi yang tidak logis, tetapi menurut imajinasi saya, adalah jauh lebih memuaskan untuk melihat naluri tersebut sebagaimana Cuckoo mendepak keluar saudara angkatnya, – semut memperbudak semut lain, — larva Ichneumondae makan dalam tubuh hidup ulat sutra, — tidak seperti naluri khusus yang diberikan atau diciptakan, akan tetapi sebagai akibat kecil satu hukum umum yang membawa kemajuan semua makhluk organik, — yakni, memperbanyak, mengubah, membiarkan yang paling kuat hidup dan yang paling lemah mati.


0 Responses to “Bab 8. Naluri (Instinct). The Origin of Species-Darwin”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: