31
Agu
11

Katolik dan Evolusi

Lalu dimanakah posisi Gereja Katolik terhadap evolusi ? Pertanyaan ini mungkin tidak akan pernah menemukan jawaban final yang memuaskan, namun ada beberapa parameter tertentu yang dapat menjelaskan apa yang dapat diterima oleh Gereja Katolik. Mengenai evolusi kosmologis, Gereja telah mendefinisikan secara infallible (tidak dapat salah) bahwa alam semesta secara special diciptakan (dari tidak ada menjadi ada). Konsili Vatikan I secara serius mendefinisikan bahwa semua orang harus “mengakui bahwa dunia dan segala isinya, spiritual dan material, keseluruhan substansinya, telah diciptakan oleh Tuhan dari ketidak-adaan” (Canons on God the Creator of All Things, canon 5). Lanjutkan membaca ‘Katolik dan Evolusi’

31
Agu
11

Hindu dan Evolusi

Dalam perspektif Weda, teori evolusi Darwin itu tidak lebih daripada sekedar spekulasi yang hambar. Darwin tidak mengetahui konsep evolusi yang sesungguhnya, yaitu bahwa bukan badan jasmani yang mengalami evolusi, melainkan sang roh yang mengalaminya. Roh yang mengalami reinkarnasi dan mendapatkan badan-badan jasmani sesuai dengan karmanya. Lanjutkan membaca ‘Hindu dan Evolusi’

31
Agu
11

Islam dan Evolusi

Hasil-hasil pemikiran manusia dalam biologi menyakini kebenaran agama yang berdasarkan wahyu. Organisme tidak sekedar dikaji pada aspek fisik atau biologis semata-mata; manusia dalam biologi dipandang sebagai integral dari keseluruhan organisme. Dengan demikian dipandang sebagai manusia yang utuh, yaitu terdiri dari komponen jasmani dan rohani (Widodo, 2003).

Dalam agama islam, keseluruhan yang ada digolongkan atas: Khalik yakni Allah SWT yang menjadikan (menciptakan), dan makhluk, yaitu segala yang dijadikan oleh Allah SWT. Dengan demikian segala macam makhluk, baik makhluk hidup maupun makhluk tak hidup (benda mati) terjadi atas kehendak Allah. Terjadinya jenis-jenis makhluk hidup secara evolusipun atas kehendak Allah. Lanjutkan membaca ‘Islam dan Evolusi’

31
Agu
11

Kristen dan Evolusi

Salah satu di antara sebab-sebab utama adanya pertikaian antara ilmu dan Alkitab ialah salah paham mengenai tujuan-tujuan ilmu dan tujuan-tujuan Alkitab. Ilmu mementingkan bagaimana hal-hal dibuat dan bagaimana hal-hal itu bekerja. Seorang ilmuwan melakukan eksperimen-eksperimen, mengamati dan melaporkan, akan tetapi begitu ia melangkah melewati garis untuk mulai menjelaskan “mengapa”nya serta tujuan alam semesta dan alam, ia sudah berada di luar batas.Tujuan Alkitab ialah untuk menyatakan Tuhan dan rencanaNya bagi umat manusia. Alkitab bersifat teologis, yakni, ia mengajar kita tentang Tuhan. Alkitab mengajar kita mengapa Tuhan menciptakan bumi dan manusia. Lanjutkan membaca ‘Kristen dan Evolusi’

31
Agu
11

Budha dan Evolusi

Menurut Sethiadi (2003) dalam Agama Budha, perjalanan hidup manusia untuk mencapai penerangan sempurna, jika dharmanya semakin baik maka akan melalui maksimal 4 tahapan, yaitu: Lanjutkan membaca ‘Budha dan Evolusi’

30
Agu
11

Regulasi Ekspresi Gen pada Prokaryot

Ekspresi gen dimulai dari aktivitas RNA polimerase dalam mentranskrip DNA. Pengikatan RNA polimerase ke DNA terjadi di lokasi khusus yang disebut promotor. Promotor kuat mampu berinteraksi dengan RNA polimerase dan menginisiasi transkripsi dengan cepat. Hal sebaliknya terjadi pada promotor lemah. Transkripsi berjalan dari 3’®5’ DNA template atau mRNA disintesis dari 5’®3’. Transkripsi berakhir ketika RNA polimerase mencapai daerah penghentian atau terminasi. Kemudia RNA polimerase keluar dari DNA, sehingga diperoleh 1 pita mRNA lengkap. Lanjutkan membaca ‘Regulasi Ekspresi Gen pada Prokaryot’

30
Agu
11

Asosiasi Antar Serangga

Jumar (2000) menyatakan bahwa serangga dapat berperan sebagai predator dan parasitoid. Predator merupakan binatang atau serangga yang memakan binatang atau serangga lain. Istilah predation adalah suatu bentuk simbiosis (hubungan) dari individu, dimana salah satu individu menyerang atau memakan individu lain (bisa satu atau beberapa spesies) yang digunakan untuk kepentingan hidupnya dan biasanya dilakukan berulang-ulang. Individu yang diserang atau dimakan dinamakan mangsa. Predator memiliki ciri antara lain: ukuran tubuhnya lebih besar dari mangsa, ada yang bersifat monofag, oligofag, dan polifag, predator membunuh, memakan atau menghisap mangsanya dengan cepat, dan biasanya predator memerlukan dan memakan banyak mangsa selama hidupnya. Sedangkan menurut Untung (1996) Predator merupakan organisme yang hidup bebas dengan memakan, membunuh atau memangsa binatang lainnya dengan ciri-ciri antara lain mempunyai banyak jenis mangsa atau polifag namun ada juga yang bersifat monofag dan oligofag, ukuran tubuh lebih besar dari mangsa, daya cari mangsa yang tinggi dan memiliki kelebihan sifat fisik yang memungkinkan predator mampu membunuh mangsanya. Lanjutkan membaca ‘Asosiasi Antar Serangga’